Strangers Sympthon [4]

Stranger sympthon copy

Strangers Sympthon [4]

By: F

Ini hanya untuk hiburan semata, bagi yang tidak menyukai pairing dibawah tinggalkan ff ini. Dan diharapkan jika ingin copy paste, sertai pula dengan nama authornya. Saling menghargai yaa dan please, dont keep silent!!πŸ˜„

***

Β 

Saat Taeyeon sudah hampir mencapai pintu utama untuk membukanya, pintu itu terbuka lebih dulu dan menampilkan sosok Sunny yang tak pernah Tiffany duga akan pulang secepat itu.

β€˜Apa ia sudah mendapatkan apa yang dibutuhkannya??’ batin Tiffany

β€œ Taeyeon! β€œ panggil Sunny dengan kedua sudut bibirnya yang merekah lebar, namun senyuman lebar itu tak berlangsung lama setelah ia melihat sebuah koper dibawa oleh Taeyeon. β€œ Kau akan pergi? β€œ tanyanya bingung

β€œ S s sunny? K kau sudah kembali? Ne, kebetulan sekali β€œ kata Taeyeon sambil terkekeh gugup, menyembunyikan rasa kesal dan sedihnya

β€œ Chankman, ada apa? Mengapa kau tidak memberitahuku dan mengapa kau sulit dihubungi?? β€œ tanyanya membuat Taeyeon kebingungan untuk menjawabnya

Disisi lain, Tiffany yang melihat itu segera membalikkan tubuhnya. Bersandar pada dinding pilar dengan kedua tangan yang mengepal kuat.

β€œ Sial! β€œ

Β 

~ Chapter 3

 

β€œ Ikutlah bersamaku, kau harus menjelaskan semuanya termasuk tentang ini semua β€œ kata Sunny sambil menunjuk koper Taeyeon, namun Taeyeon menahannya.

β€œ Tak ada yang perlu dijelaskan, kau sudah pulang, itu artinya tugasku sudah selesai β€œ

β€œ Ani. Aku masih membutuhkan bantuanmu, Taeng. Just follow me! β€œ. Sunny menarik lengan Taeyeon, membawa gadis mungil itu ke suatu ruangan.

Taeyeon duduk disofa, ruangan itu masih dengan corak hitam-putih yang kusam warnanya. Gadis itu memperhatikan setiap pergerakan Sunny yang berjalan menjauhinya menuju sebuah pantry, membuka lemari pendingin dan mengambil beberapa minuman dari sana. Kemudian, Sunny menghampiri Taeyeon dan duduk didekatnya.

β€œ Apa yang terjadi? β€œ tanya Taeyeon sambil menatap Sunny yang terlihat kelelahan, β€œ Kau sudah menyelesaikan keperluanmu di Cali? β€œ sambungnya.

β€œ Not yet. Aku pikir kedatanganku kesana pun sia-sia β€œ ujar Sunny membuat Taeyeon mengerutkan dahinya tak mengerti. β€œ Aku tidak mendapatkan apa yang kubutuhkan, Taeng β€œ sambung Sunny dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca.

β€œ Apa yang sebenarnya kau butuhkan, Sunny? β€œ tanya Taeyeon penasaran

β€œ Mencari sebuah jawaban dan kejelasan tentang sesuatu yang menyangkut Tiffany β€œ katanya, Taeyeon semakin mengerutkan dahinya dalam.

β€œ Apa maksudmu? Aku tak mengerti β€œ ujar Taeyeon

β€œ Kau tahu kan, Taeng. Tiffany terlihat berbeda dari yang lain, dia memiliki kulit putih yang pucat, suhu tubuh serta sikap yang dingin dan gadis itu memiliki mood yang mudah berubah-ubah. Jika harus kuberitahu semua itu termasuk dalam sebuah penyakit, selama ini Tiffany sakit dan aku yang selalu merawatnya. Aku mencari kebenaran tentang penyakit sesungguhnya yang diderita Tiffany, entah symphton apa yang muncul ditubuhnya, itu masih belum diketahui. Kau mungkin akan terkejut bahwa sesungguhnya selama ini Tiffany tidak pernah tidur. Sekalipun ia tertidur, itu tak akan berlangsung lama. Ia akan terbangun dengan keringat dingin diseluruh tubuhnya. Tiffany memang tidak pernah sakit demam atau terserang flu sekalipun, tetapi melihatnya terbangun seperti itu membuatku menderita. Sebulan yang lalu, seorang temanku, Yoona menghubungiku. Dia membantuku mencari informasi yang jelas tentang penyakit itu, tetapi setelah kami datangkan ke sana. Mereka pun masih belum bisa menemukan kejelasannya. Tapi kami tahu bahwa inti penyakit yang diderita Tiffany berhubungan dengan Sycologynya β€œ

Taeyeon terdiam setelah mencerna semua ucapan Sunny dikepalanya, sebagian pertanyaannya selama beberapa hari sebelumnya akhirnya terungkap juga. Ia jadi tahu mengapa Tiffany terlihat sangat menakutkan, tetapi pertanyaan lain muncul dikepala Taeyeon. Seseorang bersikap dingin pasti memiliki alasannya, itulah yang saat ini muncul dikepala Taeyeon.

β€œ Ottokkae? β€œ gumam Sunny yang terdengar jelas oleh Taeyeon.

β€œ Adakah cara lain, hmm, mungkin semacam theraphy psycology? β€œ

β€œ Satu yang kutahu adalah membuat Tiffany membuka diri dengan orang-orang disekitarnya β€œ

β€œ Ne, karna menurutku mengapa sikap Tiffany dingin, mungkin ada sesuatu hal yang terjadi dimasa lalunya sehingga membuatnya trauma dan memilih membangun benteng yang tinggi untuk orang-orang disekitarnya apalagi orang asing sepertiku β€œ ujar Taeyeon sedih

β€œ Ahh.. bicara soal itu, apa Tiffany lah yang membuatmu menarik kopermu, Taeng? β€œ

β€œ Ne, dia mengira bahwa kau membayar mahal untuk keberadaanku disini β€œ

β€œ Mwo!?? β€œ. Sunny beranjak dari tempatnya, lalu Taeyeon menahan gadis itu untuk tidak emosi dan memintanya duduk kembali.

β€œ Gwenchana β€œ

β€œ Tapi, tak seharusnya dia seperti itu! Pasti menyakitkan untukmu, aku akan memarahinya nanti! β€œ

β€œ Andwe! Kau tak perlu bersikap begitu, aku tak ingin terjadi sesuatu pada kalian karnaku β€œ.

Sunny menghela nafas, β€œ Mianhae, Taeng. Apa Tiffany melakukan sesuatu yang lain lagi padamu? Aku tahu, kau pasti merasa sangat takut berada disini β€œ

Taeyeon menggelengkan kepalanya. β€œ Aniya. Berkat kehadiran Wendy, aku tidak terlalu merasa kesepian β€œ ujarnya membuat Sunny teringat akan gadis yang lebih muda darinya itu.

β€œ Ahh.. Wendy, aku hampir melupakannya. ” kata Sunny datar

β€œ Kau bilang, kau tinggal disini dengan Tiffany saja, bukan? Lalu, Wendy? β€œ tanya Taeyeon penasaran

β€œ Mengapa kau penasaran sekali dengan gadis itu? β€œ ledek Sunny, β€œ Ne, aku memang tinggal berdua dengan Tiffany disini. Wendy selalu pulang ke rumahnya setelah pekerjaan dirumah ini selesai β€œ jelas Sunny membuat Taeyeon manggut-manggut, lalu pertanyaan lain datang dalam benak Taeyeon.

β€œ Lalu, dimana Wendy tinggal? Sepertinya disekitar sini tidak ada tanda-tanda kehidupan yang lain lagi β€œ kata Taeyeon polos.

Sunny tersenyum tipis, β€œ Kau terlalu banyak bertanya, Taeng. Suatu saat kau pasti mengetahuinya β€œ jawab Sunny dengan jawabannya yang menggantung, membuat Taeyeon menyenyitkan dahinya. Lalu, Sunny beranjak berdiri β€œ Aku akan menemui Tiffany terlerbih dahulu, sebaiknya kau kembali ke kamarmu β€œ

β€œ Aku masih akan tinggal disini?? β€œ tanya Taeyeon sambil menunjuk dirinya sendiri

β€œ Kau tidak ingin membantuku mencari solusi tentang Tiffany, Taeng? β€œ

.

.

Sunny pov

Kulangkahkan kakiku berjalan menyusuri setiap koridor, seiring pikiranku berfikir keras untuk mencari solusi lain tentang penyakit Tiffany. Terus terang, aku tak tahu apa yang harus kukatakan tentang hal ini pada Tiffany. Aku juga tak tahu bagaimana respon Tiffany jika ternyata penyakitnya selama ini masih belum mendapatkan titik terang cara untuk menyembuhkannya atau bahkan menghilangkannya.

Aku tak ingin Tiffany putus asa dan menyerah, lalu semakin mengasingkan diri dari orang-orang disekitarnya. Sudah cukup selama ini dia hidup dibalik bangunan ini tanpa berniat membuka diri, sekalipun ada beberapa orang yang lebih mengenal Tiffany lebih dulu dibanding aku. Wendy salah satunya.

Well, aku memiliki alasan lain mengapa saat Taeyeon menyinggung soal Wendy, aku tak banyak bicara. Karna membicarakan Wendy, sama saja dengan aku membeberkan semua rahasia yang selama ini dijaga ketat oleh Tiffany. Aku sudah berjanji untuk menyimpan itu semua, seperti apa yang Tiffany inginkan. Mungkin, suatu saat aku akan menceritakannya atau siapa tahu justru Tiffany lah yang akan mengungkapkan misteri dalam kehidupannya. Lagipula, tidak semua kehidupan masa lalu Tiffany aku ketahui.

Tak lama kemudian, langkahku terhenti didepan sebuah pintu. Pintu ini adalah pintu kamar Tiffany, tetapi aku jarang berkunjung kesini karna gadis itu jarang berada dikamar tersebut. Kuketuk pintu kamarnya pelan, lalu membukanya secara perlahan. Menyembulkan kepalaku dari balik pintu untuk memastikan bahwa saat ini aku tepat waktu untuk datang menemuinya.

Pandanganku menyapu seluruh ruangan itu dan seketika, aku menangkap sosok familiar yang membelakangiku. Tiffany terlihat seperti biasanya, berdiri disana sambil memandang keluar jendela. Pekerjaan itu sudah menjadi hobynya selama aku tinggal disini.

Kulangkahkan kakiku untuk masuk ke dalam ruangan itu, mencoba menghampirinya namun langkahku tertahan saat mendengar suaranya.

β€œ Jadi kau masih tidak bisa menemukannya? β€œ tanyanya terus terang, sepertinya dia sudah tahu. Aku tersenyum tipis, Tiffany memang selalu tahu. Aku bahkan, hampir melupakannya jika ia adalah orang yang luar biasa dengan kelebihannya.

β€œ Fany–.. β€œ

β€œ Aku sudah tahu, aku sudah menduga, maka dari itu–.. β€œ kata Tiffany yang terputus seiring membalikkan tubuhnya sehingga kami saling berpandangan.

β€œ Aniya. Aku tak akan menyerah, justru aku akan mencari cara lain untuk membantumu β€œ

β€œ Kau hanya akan membuang-buang uang dan tenagamu β€œ ujarnya, namun dengan cepat aku menggelengkan kepala dan semakin mendekat ke arah Tiffany. Aku memeluk Tiffany erat dan seketika, sebuah memori dimasa lalu hadir dibenakku.

Flashback

Beberapa tahun yang lalu, saat masa dimana banyak korban pembunuhan massal disuatu wilayah, seorang gadis kecil terlihat menangis histeris disela-sela pepohonan yang menjulang tinggi. Ia membawa salah satu tangannya ke dalam mulut untuk ia gigit agar dapat meredam tangisnya. Berkali-kali ia memanggil neneknya, sementara kedua orangtuanya sudah tiada saat gadis kecil itu berumur 2 bulan setelah kelahirannya sehingga ia tinggal bersama neneknya. Namun kini, nenek gadis kecil itu menghilang dan meninggalkannya seorang diri disana sementara suara ledakan keras terus menerus menggema disana membuatnya ketakutan setengah mati.

Tak lama kemudian, kedua telinganya mendengar sesuatu. Seperti bunyi dedaunan yang terinjak oleh derap langkah kaki. Suara itu semakin terdengar jelas ditelinganya.

Gadis kecil itu tak tahu harus bagaimana, ia yang terbilang masih anak kecil hanya dapat terdiam tanpa melakukan apapun. Hanya menunggu sang ajal menjemputnya. Tubuh gadis itu perlahan meluruh ke tanah, ia memeluk kedua lututnya yang berdarah dengan tubuh bergetar.

Detik selanjutnya, gadis kecil melihat sepasang kaki bediri dihadapannya. Ia terkejut dan semakin ketakutan, meringsek ke dalam sela-sela pohon semakin dalam. Tetapi, sepasang kaki itu justru mendekat ke arahnya.

β€œ A a apa yang kau lakukan disini? β€œ tanya seseorang. Ragu, gadis kecil itu perlahan memandang ke arah sosok diatasnya. Kedua matanya telah membengkak karna terlalu lama menangis.

Gadis kecil itu melihat seorang gadis yang diduga lebih tua darinya, cantik. Pikirnya.

β€œ Apa kau sedang berlindung dengan bersembunyi disini? β€œ tanya sosok itu sekali lagi, tetapi bibir gadis kecil itu terasa membeku hanya untuk membalas ucapan sosok gadis diatasnya. Sekuat tenaga gadis kecil berucap karna sepertinya gadis diatasnya masih menunggu jawabannya. Hingga satu kata keluar dari mulutnya.

β€œ Nenek β€œ ucapnya lirih

β€œ Nenek? Kau mencari nenekmu? β€œ. Gadis kecil mengangguk pelan, β€œ Sepertinya nenekmu sudah terbunuh oleh mereka, sebaiknya kita pergi dari sini karna mereka baru saja membunuh appaku disana β€œ ujarnya terus terang.

Mendengar ucapan sosok gadis itu tentang neneknya, tentu saja membuat air matanya semakin mengalir deras keluar dari pelupuk matanya. Gadis kecil bahkan hampir berteriak, jika sosok gadis yang lebih tua darinya itu tidak segera membungkam mulutnya.

β€œ Kau akan menempatkan kita dalam bahaya jika berteriak β€œ ucapnya dengan berani, β€œ Kau tak usah takut, aku ada disini. Aku akan menyelamatkanmu adik kecil, kajja! β€œ

Aku tersadar dari memori masa laluku dulu, sungguh masa itu adalah masa tersulit bagiku. Jika Tiffany tidak menyelamatkanku, mungkin aku tidak akan bisa bertahan hidup sampai sekarang ini. Kemudian, aku tersadar bahwa saat ini aku tengah memeluk Tiffany.

β€œ Uang tidak seberapa dibanding dirimu yang telah menyelamatkanku β€œ bisikku sambil mengelus punggung Tiffany lembut, β€œ Mianhae β€œ ucapku dengan kedua mata yang terasa memanas, menahan tangis.

Kemudian, kami melepaskan pelukan dan saling memandang satu sama lain. β€œ Bisakah kau tetap bertahan dan mengikuti cara apapun yang kulakukan untukmu, Tiffany? β€œ tanyaku yang terlihat membuat Tiffany menyernyitkan dahinya.

β€œ Cara apa yang telah kau pikirkan? β€œ tanya Tiffany penasaran

β€œ Hm.. aku akan mengatakannya padamu setelah aku mendapatkan cara itu. Otte? β€œ. Aku menangkupkan kedua tangan dibahunya dan terus menatap kedua matanya yang berkilau, mata itu seolah mengatakan β€˜Semoga cara yang aku dapatkan kali ini adalah akhir dari segalanya’.

Aku tersenyum manis saat Tiffany menghela nafasnya, itu artinya ia menyetujui ucapanku. β€œ Gomawo β€œ ucapku

β€œ Hm. Apa kau sudah bertemu dengan Zhuka? β€œ tanyanya yang dalam sekejap membuatku terdiam, kupejamkan kedua mata ini sesaat untuk menghilangkan sedikit kecemburuan yang selalu ada dalam diriku ketika Tiffany lebih peduli pada gadis itu.

Aku dengan gadis itu memang sangat berbeda, aku berisik sedangkan dia lugu, manis dan baik hati. Gadis itu memiliki jiwa seorang ibu, sedangkan aku penuh dengan aegyo. Aku dengan gadis itu sejak awal memang tidak terlalu dekat karna aku lebih nyaman berada di panti, sementara Tiffany pergi dengan gadis itu hingga akhirnya ia datang menjemputku untuk tinggal bersamanya.

Meskipun begitu, Tiffany selalu menyempatkan waktunya untuk mengunjungiku di panti dan bermain denganku atau sekedar menemaniku bermain sendiri karna Tiffany selalu memilih memperhatikanku atau diam disampingku daripada bermain boneka-bonekaan bersamaku.

Aku tak bisa menyamakan kepribadianku dengan gadis itu, meskipun pada akhirnya baik aku dan dirinya tetap berada dihati Tiffany. Aku juga bersyukur karna Tiffany lebih percaya padaku untuk urusan dunia diluar wilayah ini, terdengar impas. Tetapi tetap saja, kecemburuan seorang adik pada kakaknya selalu aku rasakan.

Back to reality, aku membuka kedua mataku dan kulihat ia masih menatapku bingung. Aku menarik nafas dalam dan menghembuskannya secara perlahan.

β€œ Not yet β€œ jawabku seadanya

β€œ Kita bisa menemuinya bersama-sama β€œ ujarnya

β€œ Mianhae, aku lelah, mungkin lain kali aku akan menyapanya. Gwenchana? β€œ. Tiffany menganggukkan kepalanya, lalu meninggalkanku seorang diri didalam kamarnya.

Maaf. Hanya itu yang dapat kulontarkan didalam hati.

Author pov

Sunny berjalan menyusuri lorong pertama dan matanya tak sengaja menangkap sosok Taeyeon yang terlihat baru saja akan menuruni anak tangga.

β€œ Taeyeon β€œ panggil Sunny yang berhasil menghentikan langkah Taeyeon dan membuat gadis itu menoleh ke arahnya.

β€œ Ohh Sunny-ah β€œ

β€œ Kau mau kemana? β€œ tanya Sunny bingung

β€œ Aku mendadak harus ke kampus karna professor menghubungiku bahwa ada seseorang yang memintaku melukis sesuatu untuknya β€œ jelas Taeyeon

β€œ Kau akan kembali lagi kan? β€œ. Taeyeon menganggukkan kepalanya, β€œ Kalau begitu lekas kembali, bantu aku menyiapkan makan malam β€œ sambung Sunny

β€œ Baiklah kalau begitu, sampai jumpa Sunny β€œ. Taeyeon melambaikan tangannya, seiring bergegas menuruni anak tangga dengan seringaian dork.

Setelah memastikan Taeyeon sudah keluar dari pintu utama, Sunny memutuskan untuk menuruni anak tangga dan berjalan ke belakang mansion. Ia butuh ketenangan untuk beristirahat dari perjalanan panjang sebelumnya, pikir Sunny.

.

β€œ Kim Taeyeon β€œ. Taeyeon menoleh ke sumber suara, tatkala merasakan sebuah tepukan dibahunya. Gadis itu mengangkat satu alisnya begitu melihat seorang gadis tinggi dihadapannya, β€œ Aku Choi Sooyoung β€œ

β€œ Oh ya, seseorang yang menghubungiku kemarin? β€œ tanya Taeyeon memastikan

β€œ Nah, kau mengingatku β€œ

β€œ Tentu saja dan maaf, aku tidak menghubungimu lagi saat itu β€œ ujar Taeyeon menyesal

β€œ Kau benar, seharian itu aku menunggumu dan mencoba menghubungimu lagi. Tetapi, ponselmu tidak aktif β€œ

β€œ Ohh.. maafkan aku Sooyoung-ssi, temanku menghabiskan baterai ponselku untuk bermain games β€œ bohong Taeyeon padahal malam itu ponsel milik Taeyeon berada ditangan Tiffany

β€œ Tak masalah dan panggil aku Soo, Taeyeon-ssi β€œ

β€œ Baiklah, sebenarnya ada apa Soo? β€œ tanya Taeyeon penasaran

β€œ Apa kau sedang sibuk? Kita bisa membicarakannya di taman β€œ ujar Sooyoung

β€œ Maaf, tapi hari ini aku sibuk. Professor menghubungiku beberapa jam yang lalu, jadi aku harus segera menemuinya β€œ ungkap Taeyeon.

Sooyoung menghela nafas. Ia kecewa lantaran usaha kedua untuk bertemu dengan Taeyeon demi misinya mencaritahu tentang Sunny harus berakhir secepat ini. tetapi, kekecewaan itu tidak sepenuhnya membuat Sooyoung lemas karna Taeyeon kembali berucap.

β€œ Oya, bukankah kau mencari Sunny? Hari ini dia baru saja kembali, tetapi kupikir ia baru akan kembali masuk kelas di esok hari β€œ ungkap Taeyeon

β€œ Kau yakin? β€œ. Taeyeon mengangguk mantap, β€œ Waahhh.. terimakasih atas informasinya Taeyeon-ssi β€œ ujar Sooyoung seiring berpamitan untuk undur lebih dulu dari gadis mungil dihadapannya. Berita ini harus segera terdengar oleh teman-temannya, pikir Sooyoung.

Sementara itu, Taeyeon kembali melanjutkan urusannya untuk menghadap professor dan calon kliennya.

.

β€œ Jadi, Sunny unnie sudah kembali? β€œ. Sooyoung mengiyakan pertanyaan Seohyun yang sejenak menghentikan acara diskusinya bersama Yuri

β€œ Taeyeon yang mengatakannya langsung padaku β€œ ujar Sooyoung, β€œ Dan Sunny baru akan kembali masuk kelas di esok hari β€œ sambungnya

β€œ Kita tak bisa menunggu esok hari untuk mencari jati diri Sunny, Soo β€œ. Kali ini, Hyoyeon berucap sambil memandang keluar jendela tembus pandang dihadapannya

β€œ Sunny baru saja kembali, bukankah sebagai seorang sahabat Taeyeon akan menemui Sunny jika tahu bahwa sahabatnya telah kembali dari urusannya yang tidak kita ketahui? β€œ tanya Yuri yang langsung membuat Hyoyeon menjentiknya jemarinya.

β€œ Ha! Kau pintar gadis tanned! Kita bisa menggunakan kesempatan itu untuk mengikuti Taeyeon. Seorang sahabat tidak mungkin tidak mengetahui dimana Sunny tinggal. Bukan begitu? β€œ tanya Hyoyeon dengan senyuman lebar menghias diwajahnya

β€œ Kau yakin jika mereka akan bertemu? β€œ tanya Seohyun ragu

β€œ Kita tak akan tahu, jika kita tidak memastikannya sendiri β€œ ujar Yuri dan langsung mendapatkan anggukkan mantap dari Sooyoung dan Hyoyeon

β€œ Kalau begitu, haruskah kita mengawasi Taeyeon selama gadis itu masih dikampus? Dan kau, Hyo. Kau bisa mencoba melacak keberadaan Taeyeon lagi dengan menggunakan nomor ponselnya. β€œ Hyoyeon memperlihatkan satu ibu jarinya seiring melompat girang dan mulai menggerakkan kesepuluh jarinya diatas keyboard laptopnya.

β€œ Ha! Aku mendapatkannya! β€œ ujar Hyoyeon bangga. Padahal, ia baru saja bergerak beberapa menit tetapi keahlian dalam bidangnya membuat semuanya terasa instan. Bahkan, Sooyoung, Yuri dan Seohyun memuji keahlian Hyoyeon.

β€œ Apa dia sedang berada di gedung kesenian? β€œ tanya Seohyun seiring melihat ke layar laptop milik Hyoyeon

β€œ Hm, ruang professor Kim β€œ jawab Hyoyeon, β€œ Kalian tenang saja, jika sudah seperti ini kita tak akan kesusahan. Mungkin setelah melihat tanda-tanda Taeyeon akan meninggalkan kampus, kita bisa mengikutinya. Bagaimana? β€œ

β€œ Aku setuju β€œ ujar Sooyoung cepat, detik selanjutnya Sooyoung meringis ketika merasakan jitakan keras dikepalanya. β€œ Yah!! waeee?? β€œ rengeknya

β€œ Aku tahu isi kepalamu, Soo. Kau setuju untuk mengikuti Taeyeon karna kau ingin segera bertemu dengan Sunny kan? β€œ. Sooyoung menyeringai, ketika isi dalam pikirannya tertebak olehYuri membuat rekan lainnya menggeleng.

.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore waktu setempat, Taeyeon yang menyadari bahwa ia masih akan tinggal di kediaman Tiffany merasa sedikit gelisah lantaran perjalanan yang jauh. Ia tak tahu jam berapa ia akan sampai di kediaman Tiffany dan ia tak bisa membayangkan bagaimana keadaan lingkungan sekitar ketika ia datang. Gelap, sunyi, penuh dengan bunyi-bunyi binatang malam yang mencekam. Itu sungguh membuat bulu kuduknya merinding.

Detik selanjutnya, ia teringat akan janjinya dengan Sunny untuk membantunya menyiapkan makan malam. Sehingga tanpa mengurangi rasa sopan, gadis itu memotong pembicaraannya dengan dua orang dihadapannya.

β€œ Maafkan aku, aku harus segera pergi karna ada sesuatu hal yang harus kulakukan β€œ ungkap Taeyeon sopan

β€œ Ahh.. pukul berapa ini? o-omo! Tak terasa sekali, Hyomin-ssi waktu sudah menunjukkan pukul 3. β€œ ujar prof Kim setelah melihat jam tangannya

β€œ Ne, sepertinya kita terlalu asyik membicarakan pekerjaan Taeyeon-ssi β€œ. Hyomin sebagai sang client tertawa pelan, seiring menatap Taeyeon malu.

β€œ Pekerjaanku memang sangat mengasyikkan, Hyomin-ssi. β€œ ujar Taeyeon sambil terkekeh, β€œ Kalau begitu, aku permisi lebih dulu. Aku akan segera menghubungimu, jika pekerjaanku telah selesai β€œ ujarnya yang langsung mendapatkan angukkan mantap dari Hyomin.

β€œ Aku permisi, prof β€œ pamit Taeyeon seiring membungkukkan sedikit tubuhnya, lalu berlalu dari hadapan kedua orang tersebut.

Taeyeon pov

Aku berjalan menyusuri koridor gedung kesenian, menuruni anak tangga hingga akhirnya mencapai lantar dasar. Suasana di kampus saat ini mulai sepi, hanya ada beberapa mahasiswa yang keluar masuk beberapa gedung karna mungkin mereka masih memiliki kelas yang tersisa.

Sesekali aku tersenyum saat aku berpapasan dengan para juniorku sambil terus berjalan menuju area parkir setempat untuk mengambil kendaraanku. Namun, ada sesuatu aneh yang kurasakan seiring aku menghentikan langkahku. Rasanya seseorang seperti tengah mengawasiku, perasaan ini adalah perasaan yang pernah kurasakan saat aku berada dilingkungan kediaman Tiffany. Ya, benar! Apa mungkin, seseorang sedang mengawasiku atau bahkan mengikutiku??

Demi memastikan itu semua, dengan cepat aku menolehkan kepala ke belakang tetapi tidak menemukan siapapun. Mataku beralih ke samping kanan dan kiri, memandang tingginya beberapa bangunan di kampus ini dan lagi, aku tidak menemukan siapapun. Hanya semilir angin berhembus menerpa wajah dan rambutku. Ini sangat aneh, mengapa aku mendapatkan perasaan ini?

Kulihat jam tangan dilengan kiriku, sebelum aku kembali melangkah menghampiri mobil dan masuk ke dalamnya. Aku harus bergegas pulang ke rumah Tiffany jika tidak ingin terjebak kegelapan malam diantara pepohonan tinggi yang menjulang, itu sangat menakutkan.

Kunyalakan mesin mobilku, lalu mulai menjauh dari kampus. Aku membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai di kediaman Tiffany dan Sunny, mungkin selama itu aku akan merasa bosan jika tidak menyalakan sebuah lagu.

Author pov

Disisi lain, jauh dari pandangan Taeyeon, sebuah mobil van mengikuti gadis itu. Yuri, Hyoyeon, Sooyoung serta Seohyun terlihat begitu serius dengan pekerjaan mereka masing-masing. Hyoyeon masih sibuk dengan laptopnya, mencoba untuk menebak kemana Taeyeon akan pergi. Sementara Yuri, gadis itu tengah memfokuskan diri pada jalanan dihadapannya. Gadis tanned itu pun mencoba untuk tidak kehilangan mobil Taeyeon dari pandangannya.

β€œ Soo, bisakah kau kecilkan suara itu? β€œ tanya Yuri yang merasa terganggu dengan suara berisik dibelakangnya

β€œ Apa? β€œ tanya Soo bingung, β€œ Ohh, maksudmu ini? β€œ. Sooyoung bergerak, memutar sesuatu yang terdapat disisi kursi Seohyun. Memutarnya full, hingga sebuah suara nyanyian film keroro terdengar keras memekkan telinga membuat semua orang mengerang

β€œ YAH!! HENTIKAN! β€œ teriak Hyoyeon yang akhirnya terganggu

β€œ O-ohh.. maafkan aku unnie β€œ sesal Seohyun seiring mengecilkan volume film tersebut, sementara Sooyoung hanya dapat tertawa sambil melahap cemilannya.

β€œ Ini sangat menyenangkan! β€œ ujar Sooyoung girang

β€œ Kau membuatku malu, unnie β€œ ujar Seohyun pelan dan tertunduk malu

 

 

Seseorang terlihat menyamankan dirinya didepan beberapa layar monitor, mengamati satu persatu keadaan yang terlihat disana hingga kedua matanya menangkap sebuah mobil mercedes benz berwarna metalik masuk dengan cepat ke jalan itu, menyusuri jalan diantara pepohonan yang menjulang tinggi. Namun, dahinya mengerut sangat dalam saat ia melihat mobil lain yang tersorot olehnya. Sebuah mobil van terlihat berhenti disana.

β€œ Siapa mereka? β€œ tanyanya pada diri sendiri seiring melihat beberapa orang turun dari kendaraan itu

.

.

Taeyeon membuka pintu utama mansion dengan kedua tangannya, senyuman lebar menghias diwajahnya karna kali pertamanya kedatangannya itu tidak disambut oleh kedua mata Tiffany yang tajam. Ia juga merasa lega karna pulang lebih cepat dari bayangannya.

Taeyeon berjalan masuk, lampu-lampu berkekuatan standar mulai menyala dan mencerahkan pandangannya pada bangunan mansion tersebut. ia melihat suasana didalam mansion cukup rapi dan bersih, hanya saja masih ada dedaunan yang beterbangan berkat angin yang terus bergerak masuk ke dalam sana.

β€œ Sunny-ah, oddiga? Aku pulang! β€œ ucap Taeyeon lantang sambil berjalan semakin dalam di mansion tersebut

β€œ Aku disini, Taeng β€œ. Taeyeon melangkahkan kakinya menuju sumber suara, tetapi menit selanjutnya langkahnya terhenti lantaran suara Sunny terdengar menggema dan ia tak tahu lorong mana yang harus ia lalui untuk menghampiri Sunny. (Coba aja bayangin kalau kalian berada di lawang sewu, kota semarang. Mansion Tiffany hampir mirip dengan itu)

β€œ Sunny-ah β€œ panggil Taeyeon, kali ini suaranya sedikit tercekat karna lorong-lorong yang terlihat oleh kedua matanya begitu gelap

β€œ Disini, kemarilah, bantu aku! β€œ. Taeyeon kesulitan menelan ludahnya sendiri, keringat dingin perlahan mengalir dari pelipisnya. Kedua kakinya terasa berat untuk melangkah, ia merasa jika ia melangkah satu kali saja, ia bisa tertarik dalam kubangan kegelapan didalamnya. Menembus dimensi mengerikan yang tak pernah terbayangkan di dalam pikirannya.

Tak lama kemudian, alih-alih bayangan gadis itu yang akan tertarik dalam kubangan hitam justru tubuh Taeyeon terdorong kuat membentur dinding dibelakangnya. Gadis mungil itu terkejut bukan main, kedua matanya membelalak saat ia menemukan seorang Tiffany menekan dada dengan lengan kanannya. Mereka saling berpandangan dan seperti biasa, pandangan Tiffany begitu tajam dan menyala biru menatapnya.

β€œ Ugh! β€œ. Taeyeon mengerang seiring mencoba meraih-raih udara, tekanan lengan Tiffany didadanya membuat ia kesulitan untuk bernafas. Lalu, ia merasakan satu tangan Tiffany merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya.

β€œ Sudah kukatakan untuk tidak mengaktifkan ponselmu disini β€œ ucap Tiffany penuh dengan penekanan, genggaman tangan pada ponselnya terlihat sangat kuat hingga berhasil membuat tubuh Taeyeon bergetar ketakutan.

β€œ L l l lep paskan! β€œ

β€œ Aku tak akan melepaskanmu, ini waktu yang tepat untuk membunuhmu! β€œ ungkap Tiffany seiring memperlihatkan seringaian yang menakutkan, lalu kedua tangan Tiffany melingkar di leher Taeyeon. Mencekiknya hingga berhasil membuat Taeyeon semakin kesulitan untuk meraih-raih udara.

β€œ Tiffany HWANG! β€œ

TBC

 

 

81 comments

  1. Serem nih bayangin fany kayak gitu…gw kok mikir, penyakitnya fany kayaknya bakalan sembuh sama tae…..sama cintanya taetae lebih tepatnya hehehe….next dah masih banyak misteri yg blm terpecahkan

  2. Aduh fany kasian tae dicekik kayak gitu,,
    itu hyo and the genk kepo bgt,, pake acara ngikutin tae sgala,, klo gini tae lagi kan yg kena apesny

  3. Wah lama bgt nungguin kelanjutan ff ini, akhirnya update juga. Hmm…… Tiffany misterius bgt yah. Mau bunuh Tae, jangan donk….. Kenapa gak bilang aja kalo Tae diikutin. Ribet bgt deh kalo sifatnya Fanny udah kyk gt. Hehehehe……
    Ditunggu thor next partnya.πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

  4. Wawww… Fany jarang tdur,, pasti kalo orng biada uddh pusing bgt tuh… Hehehe
    Ahhh.. Ternyata gtu ceritanya knapa Sunny bsa tinggal sama Fany.
    Ya ampun Hyo sama yg lain pengen apa knapa terus buntutin Tae?? Dan buat Soo,, pasti seneng bgt pas denger kalo Sunny uddh balik..
    Yaa… Itu Fany knapa mau bunuh Tae??
    Oh iya.. Ka One Night nya kapan?? Hehehe
    Semngat terus ^_^

  5. ya ampun fanny kagak ada manis2 nya bangettt sma taeng -,-
    lama ke lamaan jga psti lu cinta jga sma taeng panul :v

    itu hyomin jdi prop. umur nya brpa prtanyaan nya apa bnget yee wkwkwkkkkkk……
    taeng jga di suruh matiin hp malah gak di denger kan …

  6. Akhir’y nongol juga nich ff..
    Fanny marah krn taeng hidupin hp’y keacak ma soo..
    Makin seru…
    Next part.

  7. Annyeong thor, reader baru or lama yah? Sy sudah bnyk bca ff d wp ini, tp blm prnh komen. Mian mian, tp u/ seterusnya sy usahakan u/ komen d wp ini. Sbnernya pnyakit tippa itu apa sh? Makin penasaran. Aaih, itu tae mau diapain? No no, tlg jgn bunuh unnie imutku! Lanjut thor

  8. serem jg kl panny lg marah, jd slama ini panny sakit
    msh pensaran sp itu zuka?
    waduh taeng mo di bunuh, andweee

  9. Wahhh bkln ktauan g yaa kira2 keberadaan taeng sma yul dkk,,stop ppany’ah dia suamimuuuu jgn kau skiti dia jebal,aiishh gw gila sndirii wkwkwk

  10. yakin tuh fany mau ngebunuh taeng? mungkin harus mikir 1000 kali deh
    dari awal udah merinding bacanya tapi keren thor beda semangat thor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s