Strangers Sympthon [3]

Stranger sympthon copy

Strangers Sympthon [3]

By: F

Ini hanya untuk hiburan semata, dan diharapkan jika ingin copy paste, sertai pula dengan nama authornya. Saling menghargai yaa dan please, dont keep silent!!πŸ˜„

***

Author pov

β€œ Kau telah berani mengusik ketenanganku. Aku bisa melakukan apapun untuk menyingkirkan setiap orang yang menggangguku β€œ kata Tiffany penuh dengan penekanan, suaranya ditelinga Taeyeon terdengar menakutkan.

β€œ M m meskipun begitu, aku akan tetap bertahan sampai Sunny kembali β€œ ujar Taeyeon yang berusaha untuk tidak terlihat takut pada Tiffany

β€œ Apa kau ingin aku membunuhmu sebelum Sunny pulang? β€œ

β€œ M m mwo!?? β€œ tanya Taeyeon seiring membelalakkan kedua matanya

β€œ Kau mulai takut? β€œ. Tiffany menyeringai semakin lebar dihadapan Taeyeon membuat gadis mungil itu kesulitan menelan ludahnya sendiri

β€œ T t tidak! A aku akan tetap bertahan, ne! β€œ

β€œ Kalau begitu, mulai sekarang. Kau tidak bisa menggunakan ponselmu selama berada dirumah ini. β€œ Taeyeon terkejut, lantaran Tiffany mendapatkan ponselnya. Perlahan Tiffany mendekatkan wajahnya pada Taeyeon, membuat wajah gadis mungil itu memucat dan kesulitan untuk bernafas. β€œ Kau juga tidak boleh bertanya padaku tentang apapun dan jika kau menyentuh seinchi kulitku, kau akan mati β€œ bisik Tiffany

Tiffany menggenggam kuat ponsel Taeyeon dan sekejap ponsel itu mati. Lalu, Tiffany melihat kilauan lampu yang terpantul dari pisau yang tersimpan tak jauh didekatnya dan Taeyeon. Tiffany memandang pisau dan Taeyeon berkali-kali, sebelum akhirnya seringaian evil menghias diwajahnya.

β€œ Simpan kembali alat-alat dapur dengan rapi dan bersih β€œ. Tiffany menyimpan ponsel gadis mungil itu dimeja pantry, lalu melangkahkan kakinya untuk pergi dari dapur.

β€œ A a a apakah kau ingin makan malam bersamaku? β€œ tanya Taeyeon gugup, sekilas Tiffany menghentikan langkahnya dan melirik ke arah Taeyeon. β€œ Ohh.. apa aku baru saja bertanya padamu? M m mian β€œ. Setelah ucapan Taeyeon berakhir, Tiffany benar-benar pergi meninggalkan gadis mungil itu seorang diri di dapur.

β€œ Gadis hantu! β€œ umpat Taeyeon sambil menundukkan kepalanya.

Diluar dapur, Tiffany bersandar diri didinding koridor. Ia menyimpan salah satu tangan didadanya. Keringat dingin mengalir disekujur tubuhnya, kali pertamanya disuhu tubuhnya yang biasa dingin tiba-tiba terasa panas. Sesekali gadis itu mengintip ke dalam dapur, dimana ia bisa melihat Taeyeon tengah duduk didepan beberapa hidangan yang terlihat sangat lezat.

Kemudian, ia melihat kedua sudut bibir Taeyeon merekah lebar saat gadis itu menatap hidangan pembuka dihadapannya sambil duduk nyaman dikursi yang tersedia. Sebenarnya, dapur itu sama sekali tidak menyediakan meja makan dan kursi pun entah mengapa tiba-tiba tersimpan disana. Kata dapur itu memang benar-benar berfungsi sebagai ruang masak karna ada ruang lain yang khusus untuk menyantap makanan di mansion tersebut.

Tiffany mencoba menetralisirkan perasaan aneh yang ia rasakan. Hingga ia merasakan sebuah tepukan dibahunya membuat Tiffany menoleh ke belakang.

 

 

β€œ Sebaiknya kau jangan dekat-dekat dengan gadis asing itu β€œ kata Tiffany yang kini sudah duduk diatas kursi didalam kamarnya, ia meneguk air putih dan menatap sosok Wendy yang berdiri dihadapannya sambil menundukkan kepalanya.

Gadis yang menepuk bahu Tiffany sebelumnya adalah Wendy, rupanya gadis itu tidak benar-benar pergi ketika Tiffany memintanya pergi. Wendy adalah salah satu gadis setia yang memutuskan untuk mengabdi dalam menjaga Tiffany. Keberadaan Wendy dirumah itu pun karna Tiffany.

β€œ Tapi, unnie. Taeyeon unnie tidak seburuk yang dibayangkan, dia gadis yang baik dan ceria β€œ

β€œ Aku tidak peduli, orang-orang memang selalu membangun image yang baik terlebih dulu sebelum ia menghancurkan oranglain β€œ

β€œ Tak ada salahnya mencoba membuka dirimu kembali, unnie. Tidak semua orang buruk β€œ

β€œ Bisakah kau diam? Apa yang gadis itu lakukan padamu hingga membuatmu membelanya terus menerus dihadapanku, kalian bahkan baru bertemu. Bagaimana bisa kau berkata seperti itu, Wendy β€œ

β€œ M mianhae, unnie. Aku hanya ingin kau memiliki teman selain Sunny unnie. β€œ

β€œ Aku tak ingin berharap lebih pada mereka, jika pada akhirnya mereka hanya akan melukaiku. Sekalipun nantinya Sunny akan sibuk dan meninggalkanku, aku tak apa. β€œ kata Tiffany, β€œ Pergilah β€œ sambungnya.

Wendy membungkukkan sedikit tubuhnya dihadapan Tiffany untuk undur diri, β€œ Dan Wendy.. β€œ panggil Tiffany membuat Wendy kembali menatap ke arah Tiffany.

β€œ Nan gwenchana, unnie β€œ. Seolah Wendy mengetahui kalimat apa yang akan terlontar dari mulut Tiffany, gadis itu buru-buru menjawabnya sambil tersenyum manis sebelum akhirnya berjalan keluar meninggalkan Tiffany seorang diri.

β€˜Aku akan mencamkan kata-kata daddy, bahwa aku tak boleh mempercayai siapapun. Kecuali, Sunny. Mungkin’

***

Taeyeon pov

Aku membuka kedua mataku, terbangun dari mimpiku. Kali pertamanya aku mendapatkan mimpiku yang tak jelas apa makna didalamnya seperti semalam. Dimimpi itu, aku seolah tertarik masuk ke dalam kubangan hitam yang menembus dimensi lain hingga aku berada dipadang rumput yang hijau. Disekelilingku penuh dengan bunga berwarna warni, tak jauh didepanku sebuah danau membentang indah dan setelah itu seperti inilah akhirnya. Terbangun dalam situasi yang sebaliknya dari mimpi itu.

Muram. Kupandangi ke sisi seberang tempat tidurku, dimana terlihat sebuah cahaya kecil berusaha menembus celah jendela. Kuraih jam tangan yang sengaja kusimpan diatas meja, waktu menunjukkan pukul 7 pagi tetapi cuaca diluar masih terlihat cukup gelap. Apa semua ini karna pepohonan disekitar rumah ini? Karna banyaknya pepohonan membuat matahari kesulitan untuk menerangi kediaman ini.

Aku menghela nafas, masih berharap bahwa semua ini hanyalah mimpi. Dimana kali ini, aku benar-benar merasa sangat kesepian. Perasaan merindukan keluargaku yang telah tiada pun hadir dalam benakku. Aku penasaran dengan Sunny, apa ia juga merasakan perasaan yang sama seperti apa yang kurasakan? Dan Tiffany Hwang. Sebelum Sunny hadir dan tinggal bersamanya, gadis itu lebih dulu merasakan perasaan ini bukan? Tidakkah ini membuatnya sangat menderita. Hidup sebatang kara tanpa dukungan pekerjaan yang ia dapat untuk mendapatkan sesuap nasi. Bahkan, isi didalam lemari pendinginnya penuh dengan sayuran.

Tinggal ditempat seperti ini memang mudah mendapatkan sayur mayur secara Cuma Cuma, tetapi untuk membeli beras, daging bahkan kue beras sekalipun, mana mungkin Tiffany mampu membelinya.

Aku beranjak dari tempat tidur, berjalan menghampiri jendela dan memandang keluar sana. Tak banyak yang bisa kulihat karna jendela ini terhalang oleh dahan-dahan pohon dan ranting, jika terus seperti ini aku bisa mati kebosanan. Lebih baik aku segera membersihkan diri dan turun ke lantai dasar, siapa tahu aku bertemu Wendy dan kebetulan hari ini tak ada kelas di kampus.

Aku baru saja akan menjauh dari jendela, namun sesuatu menarik perhatianku. Aku seolah melihat seseorang yang tengah berjalan entah menuju kemana, sosok itu seorang gadis berambut coklat keemasan, mirip seperti Tiffany. Sayangnya aku tidak dapat melihat dengan jelas wajah sosok itu karna membelakangiku. Sosok itu terlihat memeluk tubuhnya sendiri, mengeratkan cardigan panjang berwarna hitam.

Ya, tak salah lagi. Pasti itu Tiffany.

β€œ Apa yang kau lihat? β€œ.

Aku terlonjak kaget seiring membalikkan tubuh dan menemukan sosok gadis yang baru saja berputar dikepalaku. Tiffany Hwang.

Jika, Tiffany ada dihadapanku. Lalu, siapa gadis itu? Dan rambutnya, itu warna rambut yang sama dengan Tiffany. Bagaimana mungkin, ia bisa berjalan secepat itu dan tiba-tiba sudah berada dikamarku. Ohh.. kamarku, dia masuk ke kamarku tanpa mengetuk pintu? Apa-apaan gadis hantu itu.

β€œ Yah! tidakkah kau punya sopan santun untuk masuk ke kamar oranglain?? Bagaimana jika aku sedang telanjang! β€œ

β€œ Bangunan ini milikku, aku bebas melakukan apapun yang aku mau β€œ ungkapnya dingin, β€œ Sebaiknya hari ini kau pergi dari rumah ini β€œ sambungnya membuatku mengerut dahi. Hal ini sudah kami bahas semalam, mengapa ia masih menyuruhku untuk pergi dari sini!

β€œ Kau berhadapan dengan orang yang salah, Tiffany. Karna aku akan tetap menjaga janjiku pada sahabatku untuk menjaga dan menemanimu disini, jadi berhenti mengusirku karna aku tak akan pernah pergi dari sini. β€œ

Author pov

Seketika, Tiffany mendorong tubuh Taeyeon hingga membentur jendela. Beruntung tidak sampai pecah, hanya saja suara benturan antara punggung Taeyeon dan jendela cukup keras.

Taeyeon tersenyum tipis, β€œ Sepertinya kau senang sekali mendorong tubuh orang β€œ kata Taeyeon, lalu entah kekuatan darimana Taeyeon balik mendorong tubuh Tiffany hingga tangan gadis dingin itu tak sengaja menyenggol lampu meja terdekat membuat lampu itu menggores tangannya dan jatuh ke lantai.

Taeyeon cukup terkejut dengan aksinya, terlihat sekali dari kedua matanya yang membelalak. Keheningan menyeruak diantara mereka, Tiffany yang sama terkejutnya hanya bisa diam sambil menatap tajam ke arah Taeyeon. Kedua matanya kembali menyala.

β€œ Pergi selagi aku masih berbaik hati padamu β€œ kata Tiffany yang kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kamar Taeyeon, sementara Taeyeon hanya bisa melihat ke lantai dimana terlihat bercak darah ditempat sebelumnya Tiffany berdiri.

β€œ Bagaimana aku bisa menjaganya jika akulah yang melukainya β€œ gumam Taeyeon, β€œ Aku harus meminta maaf padanya β€œ

.

.

Taeyeon menuruni anak tangga, kedua sudutnya merekah lebar saat ia melihat sosok Wendy yang tengah merapikan beberapa perabot.

β€œ Wendy-ssi β€œ panggilnya. Wendy menoleh ke sumber suara dan pandangan mereka bertemu, β€œ Tidurmu nyenyak? Maaf, semalam aku tak membantumu dari serangan gadis dingin itu β€œ kata Taeyeon

β€œ Ne, tak apa, unnie. Bagaimana denganmu? β€œ tanya Wendy sambil tersenyum manis

β€œ Naega? Heuheu~.. semalam mimpiku aneh β€œ. Taeyeon menggaruk kepala belakangnya yang tak gatal, ia merasa malu dihadapan Wendy.

β€œ Kau akan terbiasa nantinya β€œ ujar Wendy

β€œ Ya, kau benar. Mungkin karna aku juga kelelahan β€œ kata Taeyeon, β€œ Ohh.. boleh aku menanyakan sesuatu? Aku tak boleh bertanya apapun pada Tiffany, jadi harapanku satu-satunya adalah dirimu β€œ ungkap Taeyeon sambil mengerucutkan bibirnya lucu membuat Wendy tersenyum lebar

β€œ Tentu saja, unnie β€œ

β€œ Apakah kau tahu dimana kamar Tiffany? Pagi ini aku tak sengaja melukai tangannya, jadi aku ingin mengobati lukanya. Aku curiga jika ia tidak mengobati tangannya β€œ

β€œ Tiffany unnie terluka?? β€œ tanya Wendy dengan kedua mata yang membesar, terlihat sekali bahwa gadis itu mengkhawatirkan Tiffany dan tak percaya jika Tiffany bisa terluka. Karna selama ini Tiffany adalah gadis yang tak pernah terluka sedikit pun.

β€œ Ne, maka dari itu aku membutuhkan kotak obat juga. Bisakah kau menolongku? β€œ

β€œ Baik. Tunggu disini, unnie β€œ. Taeyeon mengangguk dan menunggu Wendy kembali dengan kotak obatnya. β€œ Kamar Tiffany unnie berada dilorong pertama, tepatnya dikoridor sebelah kanan β€œ jelas Wendy setelah kembali membawa kotak obat untuk Taeyeon.

β€œ Gomawo, Wendy. Tanpa kau, aku tak bisa apa-apa β€œ

β€œ Tak masalah, unnie. Kalau begitu, aku akan kembali bekerja β€œ.

.

.

Dipagi hari yang cerah, sepasang mata membuka dirinya. Satu hal yang pertama dilihat sepasang matanya itu adalah seorang wanita paruh baya yang tersenyum manis menyambutnya.

β€œ Omma β€œ. Sosok itu berhambur cepat memeluk ibunya yang senantiasa menjaganya setiap malam tanpa lelah, lalu sosok itu melonggarkan pelukannya untuk menatap sang ibunda. β€œ Appa, oddiga? β€œ tanyanya

β€œ Appa sedang mencari makanan untuk kita, kau ingin keluar? Mungkin kau akan senang setelah melihat mereka β€œ. Sosok kecil itu menyernyitkan dahinya bingung, lalu pandangannya menyapu tempat yang kini menjadi rumah mereka. Sebuah tenda kecil.

Sosok kecil itu kembali memandang ke arah ibundanya yang tiba-tiba ekspresinya berubah sedih, β€œ Mianhae, omma tak bisa menyelamatkan boneka kesayanganmu karna rumah kita terbakar β€œ ungkapnya hingga air mata mengalir dari pelupuk matanya.

Sosok dibawah wanita paruh baya itu menangkupkan wajahnya dengan kedua tangannya yang kecil, membuat kedua orang itu saling berpandangan. Perlahan, sosok kecil tersenyum manis sambil menghapus jejak air mata sang ibunda.

β€œ Aku nakal ya omma sampai membuat omma menangis, maafkan aku, jika omma tidak bisa menyelamatkan bonekaku. Aku tak apa, sungguh aku tak apa. Jadi omma jangan menangis lagi, aku yang akan menangis jika kehilangan omma dan appa. Omma, aku tak bisa hidup tanpa kalian β€œ ujarnya dengan suara yang imut dan lucu

Wanita paruh baya tersenyum melihat anaknya begitu menggemaskan, sehingga ia segera mendekap hangat anak semata wayangnya sambil menggendongnya keluar tenda. Sesampai diluar tenda, sosok kecil itu melonggarkan pelukan ibundanya dan meminta turun dari gendongan. Ia terlihat terkejut dengan apa yang ia lihat saat ini.

β€œ Jja~ sebagai ganti bonekamu yang tak bisa diselamatkan, kau mendapatkan mereka β€œ kata wanita paruh baya sambil tersenyum, sementara anaknya masih tercengang dengan apa yang dilihatnya. Sekelompok orang yang terlihat seumuran dengannya tengah tersenyum dihadapannya.

β€œ Sepertinya kau masih terlihat bingung, sayang. Mereka ini adalah temanmu β€œ

β€œ Teman? β€œ tanya sang anak

β€œ Ne, mulai saat ini kau tidak sendiri lagi karna ada mereka yang senantiasa menemanimu selagi omma pergi memenuhi kebutuhan kita nanti β€œ

Anak itu pun berseru girang seiring memeluk teman-teman barunya, ia tak menyangka setelah sekian lama bermain seorang diri dikamarnya akhirnya ia bisa mendapatkan teman nyata selain kedua orangtuanya. Namun, kesenangan itu tidak berlangsung lama karna detik selanjutnya keriuhan terdengar tak jauh dari mereka.

Teriakan histeris memekakkan telinga mereka, seiring beberapa gerombolan orang asing hadir disana bersama banyaknya anak panah yang tersimpan dipunggung mereka.

β€œ Enyahlah kalian dari wilayah ini! β€œ katanya, β€œ Musnahkan mereka semua! β€œ perintahnya pada beberapa orang penunggang kuda dibelakangnya.

Orang-orang yang melihat itu semua mulai mencari pertolongan, derap langkah kaki berlari terdengar seiring teriakkan yang semakin keras. Anak-anak yang sebelumnya tengah bermain bersama berlari kepanikan bersama keluarganya, sementara satu sosok anak yang baru mendapatkan temannya masih diam ditempatnya sambil menatap takut ke arah mereka yang mencoba membunuh semua orang disana. Hingga ia merasakan tubuhnya terangkat.

β€œ Stephi, kajja! β€œ

β€œ A a appa? Omma? β€œ tanya gadis kecil itu bingung karna tidak melihat sosok ibunda disamping ayahnya.

β€œ Mianhae, omma–.. kajja! β€œ. Pria paruh baya menggendong paksa anak gadisnya, namun sebelum mereka benar-benar pergiβ€”gadis kecil itu melihat jasad ommanya didekat tenda mereka. Terbaring kaku dengan sebuah panah yang menancap tepat dijantungnya membuat gadis kecil tercengang dengan air mata yang mengalir deras dari pelupuk matanya.

β€œ Andwe! Kau tak boleh melihatnya! β€œ. Pria paruh baya itu menutup kedua mata anaknya dan membawanya menjauh dari keriuhan serta bahaya yang siap menghancurkan mereka.

Stephi mendekap erat leher sang ayah, menyembunyikan wajahnya disana. Bayangan jasad ibunda bersama panah yang menancap ditubuhnya masih teringat jelas dikepalanya membuat gadis kecil tak kuasa untuk menangis tersedu-sedu. Sementara ayahnya terus berusaha melarikan diri, berlari semakin dalam menyusuri liarnya hutan disekitar.

β€œ Uljimarago, Stephi. Kau akan selamat, appa janji! β€œ

β€œ Kita mau kemana, appa? β€œ

β€œ Kesuatu tempat yang aman, appa sudah menemukan tempat itu dan sebagian orang sudah berada disana. β€œ

β€œ Appa sebenarnya siapa mereka? β€œ tanya gadis kecil lirih, namun belum sempat ayahnya menjawab tiba-tiba tubuh sang ayah terlonjak hingga mereka terjatuh ke tanah. β€œ Appa.. β€œ panggil gadis kecil yang terkapar dibalik tubuh ayahnya. Kedua matanya yang kecil seketika menangkap sebuah panah yang menancap dipunggung ayahnya.

β€œ Appa, kajima. Andwe, appa jangan tinggalkan aku β€œ rengeknya disela isak tangisnya

β€œ S s stephi, p pergilah β€œ. Dengan sisa kekuatannya, pria itu berucap. Nafasnya tersenggal dan semakin ia bergerak, maka darah segar semakin keluar dari lukanya yang sangat dalam.

β€œ Shireo, appa! β€œ

β€œ S s s stephi dengar, kau harus pergi. Berlari dengan cepat h h hingga kau menemukan sebuah tempat yang sudah lama kubangun untuk k k kalian. D d dan k kau harus menjaga dan melindungi mereka. T t tolong lakukan itu untuk appa dan omma, k k kami menyayangimu, m m mianhae β€œ. Pria paruh baya itu menyingkirkan tubuh anak semata wayangnya, mendorongnya cukup keras hingga gadis kecil berguling dibalik pohon tua yang besar.

β€œ Appa, shireo! Andweyo! Kau harus membawaku, ayo kita pergi bersama! β€œ

β€œ Mianhae, S s stephi, jangan mudah mempercayai orang. K k kau harus tetap berhati-hati β€œ

Tak lama kemudian, derap langkah kaki terdengar oleh mereka. Gadis kecil menoleh ke sumber suara dan melihat sekelompok orang bersenjata.

β€œ Khah! Stephi, khah!! β€œ. Pria paruh baya itu mengusir gadis kecilnya dan perlahan anaknya mulai berdiri lalu berlari menjauh dari sana. Sesekali gadis kecil itu menoleh ke belakang, dimana ayahnya masih memandangnya dengan senyuman tulus diwajahnya. Gadis kecil bisa melihat bahwa ayahnya mengatakan sesuatu padanya, β€˜I love you, jangan lupakan pesan appa’.

β€œ Boss.. kita menemukan direktur!! β€œ

β€œ Habisi dia! β€œ

 

BANG!!

 

Seketika Tiffany membuka kedua matanya dengan cepat. Wajahnya terlihat pucat dengan keringat dingin yang mengalir diseluruh tubuhnya. Mimpinya tak pernah berubah. Jika ia tertidur, mimpi itulah yang terus hadir sebagai bunga tidurnya.

β€œ Tiffany β€œ. Gadis itu tersadar dari pikirannya saat melihat sosok gadis diatasnya, memandangnya dengan perasaan yang khawatir tanpa berniat menghentikan belaian lembut dikepala Tiffany.

β€œ Ohh.. Zhuka β€œ. Tiffany beranjak duduk, pikirannya masih kosong dan kepalanya terasa pening. Tapi itu tak masalah bagi Tiffany, gadis itu tak pernah terlalu mempersalahkan jika sesuatu menyakiti tubuhnya. β€œ Sudah berapa lama aku tertidur dipangkuanmu? β€œ tanyanya masih dengan nada yang dingin seiring menatap sosok gadis berambut coklat keemasan.

β€œ 30 menit β€œ. Tiffany mengerutkan dahinya, bunga tidur dimimpinya itu seperti Tiffany yang tertidur lebih dari 30 menit. β€œ Nightmare? β€œ tanya sosok gadis itu

Tiffany mengangguk pelan.

β€œ Dont worry, kau baik-baik saja sekarang. β€œ katanya sambil menghapus keringat dingin diwajah Tiffany, β€œ Dan lihat, lenganmu yang terluka sudah kuobati. Seharusnya kau lebih berhati-hati. Kali pertamanya aku melihatmu terluka β€œ

β€œ Aku tak peduli dengan lukanya β€œ kata Tiffany

β€œ Heyy.. kau akan terkena infeksi jika dibiarkan begitu saja, kau tahu! β€œ

Tiffany beranjak berdiri, β€œ Aku harus pulang, gadis itu harus segera pergi dari tempatku β€œ katanya seiring melangkahkan kakinya untuk pergi meninggalkan tempat yang sering ia kunjungi

β€œ Jangan terlalu kasar pada gadis itu β€œ ujar gadis itu, menahan langkah Tiffany.

β€œ Kau tidak tahu apapun, Zhuka. β€œ

β€œ Wendy telah menceritakan semuanya, tentangnya. Tentang apa yang terjadi kemarin malam β€œ

Sekilas Tiffany menoleh ke arah gadis yang selalu dipanggil Zhuka olehnya, β€œ Aku tak ingin berdebat. Wendy baru bertemu dengannya, apalagi kau belum sama sekali bertemu dengannya. Bagaimana bisa begitu cepat mempercayainya. Aku tak semudah kalian untuk mempercayai orang β€œ. Setelah Tiffany mengakhiri ucapannya, ia tak lagi melirik ke arah gadis itu melainkan pergi dengan perasaan yang tak menentu.

Didalam mansion, Taeyeon berjalan menyusuri koridor pertama. Perasaannya gelisah, ia takut bahwa ia akan mendapatkan penolakkan lagi dari Tiffany. Ia bahkan tak bisa membayangkan jika niat untuk mengobati lengan Tiffany, justru mendapatkan balasan yang tidak pernah ia harapkan dari gadis itu. Bukan. Taeyeon sama sekali tidak mengharapkan imbalan apapun dari gadis itu, ia hanya takut Tiffany melakukan hal buruk padanya mendengar kata Tiffany tempo lalu β€˜Jika kau menyentuh seinchi kulitku, maka kau akan mati’. Itu membuat Taeyeon merinding.

Kini Taeyeon sudah berdiri didepan satu pintu, ia menggigit bibirnya, ragu untuk mengetuk pintu itu. Namun, setelah mengumpulkan semua keberanian dan tekad baik untuk meminta maaf akhirnya Taeyeon mengetuk pintu itu perlahan.

Tak ada suara yang terdengar dari dalam ruangan itu membuat Taeyeon berpikir bahwa Tiffany sedang tidur, apakah ia masuk saja? Jika Tiffany tengah tidur, itu justru memudahkan ia mengobati lukanya. Pikir Taeyeon.

β€œ Tiffany, apa kau ada didalam? Boleh aku masuk? β€œ katanya sekali lagi, jika kali ini masih tidak ada jawaban dari dalam sana, ia akan langsung masuk saja. Khawatir jika luka Tiffany akan menjadi infeksi.

Kali ini, Taeyeon sudah benar-benar memastikan bahwa ia tak mendengar jawaban dari dalam sana sehingga ia memutuskan untuk memutar knop pintu tersebut.

β€œ Apa yang kau lakukan!? Kau tak boleh masuk! β€œ katanya, mengejutkan Taeyeon hingga membuat gadis mungil itu terlonjak. Kesekian kalinya, Tiffany membuat Taeyeon terkejut.

β€œ YAH! Kau mengejutkanku! β€œ. Taeyeon menyimpan satu tangan didadanya, sungguh ia sangat terkejut dengan pergerakkan Tiffany yang begitu cepat dan tiba-tiba sudah berada dibelakangnya.

Tiffany menarik tubuh Taeyeon dan kembali mendorong tubuh mungil itu ke dinding, β€œ Aku bilang tinggalkan rumah ini! β€œ teriak Tiffany didepan wajah Taeyeon, membuat gadis mungil terdiam gugup

β€œ D d dan aku sudah bilang, aku tidak akan meninggalkanmu β€œ

β€œ Tak akan meninggalkanku? Ck.. β€œ. Tiffany tersenyum tipis, seiring melirik ke arah lain dan kembali menatap tajam kedua mata Taeyeon. Perlahan, Tiffany mendekatkan wajahnya ke wajah Taeyeon. β€œ Berapa juta won, Sunny membayarmu? β€œ tanyanya

Taeyeon membelalakkan kedua matanya. Bayaran?? Apa Taeyeon melakukan ini karna sebuah imbalan? Tidak! Taeyeon melakukan ini karna tulus ingin membantu sahabatnya.

β€œ 5 juta won? 100 juta? Katakan berapa bayaranmu? Bukankah uang yang kau mau? β€œ tanya Tiffany sambil menyeringai aneh dihadapan Taeyeon.

Taeyeon terdiam menatap kedua mata Tiffany yang kembali menyala. Ia merasakan hatinya berdenyut kuat mendengar perkataan Tiffany, menyakitkan.

β€œ Cepat katakan, aku akan membayar semuanya β€œ kata Tiffany lagi.

Taeyeon memejamkan kedua matanya sejenak, lalu membukanya lagi untuk menatap kedua mata Tiffany dalam. Ia mendorong tubuh Tiffany sekuat tenaga hingga membuat kotak kesehatan yang sebelumnya berada ditangannya jatuh ke lantai.

β€œ Kau bisa menolak keberadaanku, kau bisa menganggap aku sebagai hantu yang tak terlihat. Tapi tak seharusnya kau mengungkit soal uang tentang niat baikku β€œ kata Taeyeon, β€œ Karna bagaimana pun aku melakukan ini dengan tulus dan kedatanganku ke kamarmu hanya untuk mengobati lenganmu yang terluka karnaku β€œ sambung Taeyeon, lalu kedua matanya tak sengaja menemukan perban putih dilengan kanan Tiffany.

β€œ Tapi sepertinya, kau sudah mengobatinya. Syukurlah, dengan begitu lukamu tak akan infeksi. Jika terinfeksi, kau akan tambah menderita karnaku. Bukan begitu? Kau ingin aku pergi? Baik, aku akan pergi β€œ. Taeyeon membungkukkan sedikit tubuhnya dan melangkahkan kakinya meninggalkan Tiffany seorang diri yang masih mematung memandang kotak kesehatan dilantai.

.

.

Taeyeon keluar dari kamarnya, membawa sebuah koper yang ditarik lengan kanannya. Menyusuri lorong ketiga dengan perasaan yang sedih. Terus terang, ia tak pernah sesedih ini. Perasaannya sama seperti dimana ia ditinggalkan keluarganya.

β€˜Uang?? Bagaimana gadis itu bisa mengaitkan uang dengan kebaikkan tulus dariku’

Taeyeon terus berjalan, menuruni anak tangga. Sesuai permintaan Tiffany, ia akan pergi dari rumah itu. Ia akan menjelaskan kepergiannya dari rumah itu pada Sunny, setelah sahabatnya itu kembali.

Tanpa Taeyeon ketahui, seseorang mengawasinya dari jauh. Sosok itu adalah Tiffany.

Gadis itu berdiri dibalik pilar dilantai 2, mengawasi gadis mungil secara intens dengan kedua matanya yang sangat tajam. Seringaian aneh perlahan terlukis diwajahnya, ia merasa lega karna sebentar lagi gadis mungil itu akan pergi dari rumahnya.

Saat Taeyeon sudah hampir mencapai pintu utama untuk membukanya, pintu itu terbuka lebih dulu dan menampilkan sosok Sunny yang tak pernah Tiffany duga akan pulang secepat itu.

β€˜Apa ia sudah mendapatkan apa yang dibutuhkannya??’ batin Tiffany

β€œ Taeyeon! β€œ panggil Sunny dengan kedua sudut bibirnya yang merekah lebar, namun senyuman lebar itu tak berlangsung lama setelah ia melihat sebuah koper dibawa oleh Taeyeon. β€œ Kau akan pergi? β€œ tanyanya bingung

β€œ S s sunny? K kau sudah kembali? Ne, kebetulan sekali β€œ kata Taeyeon sambil terkekeh gugup, menyembunyikan rasa kesal dan sedihnya

β€œ Chankman, ada apa? Mengapa kau tidak memberitahuku dan mengapa kau sulit dihubungi?? β€œ tanyanya membuat Taeyeon kebingungan untuk menjawabnya

Disisi lain, Tiffany yang melihat itu segera membalikkan tubuhnya. Bersandar pada dinding pilar dengan kedua tangan yang mengepal kuat.

β€œ Sial! β€œ

TBC

 

Author’s notes:

Haii.. mungkin ini akan jadi post terakhir. Hahaha jangan kaget dulu, maksudnya, selama beberapa minggu ini kan aku post terus nih. Nah, berhubung senin depan, tepatnya tanggal 4 mei aku ada sidang usulan penelitian dan beberapa urusan lain yang mulai menyusul jadi aku mau minta maaf karna gak bisa terus-terusan ngasih cerita atau lanjutan semua fanfict. Mohon pengertiannya, aku juga mau ngasih tau biar kalian gak nunggu-nunggu update-an aku. Pastikan aja, kalian ngikutin terus wp ini. karna kalau aku post, mesti suka ada pemberitahuan via email. Itu untuk kalian yang ngikutin perkembangan wp aku.

Setelah semua selesai, insyaallah aku balik lagi. Aku pengen nyelesain urusan di dunia nyata dulu. Penelitian, dan lain-lain terus wisuda deh hehehe.. amiin. Pemberitahuan ini bukan berarti aku bakal hiatus penuh, mungkin suatu saat tiba-tiba ada mood buat lanjutin cerita atau mungkin bikin oneshoot. Aku cuman gak mau kalian nunggu-nunggu post-an dari sini. Nunggu itu kan gak enak, pengalaman bangetlah aku #curcol

Oke? Doain ya, maaf kalau beberapa post terakhir aku gak balas komen kalian. tapi, komen kalian aku baca kok. Makasih banget, berhenti jadi siders ya ^^

97 comments

  1. Fany ma galak bgt ma taeng. Kasian,pake acara dorong2 segala.
    Buat authornya semoga sidangnya lancar dan cepet wisuda….

  2. yahhhh fany kok gitu sih???
    jahat bgt mau ngusir tae, untung ada sunny udah datang
    tenang aja thor gue bakal tetep setia nungguin kok
    jadi moga urusannya cepet selesai

  3. nih sbnernya fanny sp sih trus cewek yg di panggil zhuka tuh apanya fanny?msh misterius bngt
    kasian tuh taeng, di jutekin trus sm fanny
    untung sunny dah datang
    ok thor gw tetep setia nungguin kok
    fighting moga smua urusannya cpt slesai

  4. Fany tuh kenapa sih, kek nya benci banget sama semua kelakuannya tae. Semua yg dilakuin tae kek nya salah terus-_-padahal mah tae gak sejahat yg ada dipikirannya dia
    Entar kalo tae udah pergi baru deh nyesel. Giliran masih ada malah di sia2in…

  5. Jiah, author akan pergi meninggalkan ku.. hiks hiks.. *heart broken*
    Semoga lancar semuanya jadi cepetan lagi balik dan update, atau semoga dapat pangsit eh wangsit sehingga di tengah2 jadwal author yg padat masih bisa menyempatkan diri untuk update.. Amiin..
    btw, aq biasa nya pakai id kim kim tp sekarang aq pakai id ini ya thor..

  6. ih tiffany galak bgt sih..ksian tau taeyeon..untung sunny keburu dateng..
    ya udh sih thor aku do’ain semoga semua urusannya berjalan lancar trus cpt2 wisudaπŸ˜€ ..

  7. Wooohhh jadi gitu kenapa fany ga bisa mudah percaya orang hmm

    Cieee yg mau sidang sama wisuda selamat teteh…. Semoga suskes.. Semangat semangat di tunggu kabar baiknya ahaha ^^,

  8. Ishhh.. Fany ko biarin Tae pergi,, ntar nyesel lohh..
    Dan itu Sunny uddh balik lgi,, ko cepet??
    Ok.. Gue ngerti ko Ka… Dan gue nunggu cerita” loe selanjutnya..
    Semamgat terus ^_^

  9. CKckck sii panul selain nyereminnn galakk bgt trnyata herder juga klah galaknyaaaa ooppsss wkwkwk kasiann sii taeyeon..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s