West Javana [5]

snsd mrmr

West Javana [5]

By: F & Kapten Kaoru

Ini hanya untuk hiburan semata dan diharapkan jika ingin copy paste, sertai pula dengan nama authornya. Saling menghargai yaa dan please, dont keep silent!!πŸ˜„

***

Β 

β€œ Sial! Kita harus cepat pergi dari sini β€œ ucapnya pada seorang pria sambil memberikan senapan yang sebelumnya ia gunakan untuk menembak seseorang. Sosok pria lain yang ikut membidik disampingnya pun, bangkit berdiri dengan wajah yang ketakutan. Ekspresi sosok lain itu terlihat sangat kesal, kedua matanya pun begitu tajam hingga anak buah yang senantiasa berada didekatnya hanya bisa menundukkan kepalanya patuh.

Sementara itu, Minyoung yang akhirnya bisa menyelamatkan adiknya segera membopong Jessica untuk masuk ke dalam mobilnya. Gadis berambut pirang itu langsung tak sadarkan diri begitu tubuhnya ditarik Park Minyoung didalam kegelapan bersamaan dengan suara letupan yang mengejutkan banyak orang diantara mereka.

β€œ Cepat jalan! β€œ perintah Minyoung, gadis yang lebih tua dari Jessica itu terlihat khawatir melihat keadaan adiknya. Tak seharusnya ia membiarkan Jessica melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya dan itu membuat Minyoung menyesal. β€œ Maafkan aku, maaf β€œ bisik Minyoung seiring dirinya yang memeriksa tubuh Jessica, berharap tak ada luka apapun yang terdapat ditubuh sang adik. Minyoung menghela nafas lega saat menyadari bahwa adiknya tak memiliki luka apapun, Jessica hanya terkejut dan membuat gadis itu pingsan.

 

β€œ Unnie, Taeyeon unnie?? β€œ. Yoona dan Seohyun yang masih mengawasi pekerjaan Taeyeon dan Hyoyeon didalam mobil van terus memanggil salah satu rekan team mereka.

Taeyeon masih tak bergeming, kedua matanya membesar saat ia benar-benar telah menyadari bahwa terdapat darah dilehernya. β€œ Unnie! Katakan sesuatu! β€œ. Yoona yang begitu geram sekaligus khawatir meninggikan suaranya.

β€œ A-ak-aku baik-baik saja β€œ ungkap Taeyeon, tetapi jawaban itu tidak berpengaruh pada mereka. Yoona bahkan sudah berpikiran bahwa jika aksi ini dilanjutkan, semuanya tidak akan seperti yang diharapkan mereka.

β€œ Sepertinya kita harus menghentikan operasi malam ini disini, lagipula aku sudah mendap–.. β€œ ucap Hyoyeon yang langsung berlari mengejar sosok pria yang menjadi santapannya malam ini. β€œ Aku mendapatkannya! β€œ. Hyoyeon berseru seiring terdengar bunyi borgol mengunci kedua tangan satu target mereka.

β€œ Yah!! lepaskan!! Yah!!! β€œ

β€œ Kim Taeyeon, oddiga? β€œ tanya Seohyun dengan intonasi yang begitu serius

β€œ Sepertinya aku terluka, Seo β€œ ungkap Taeyeon lirih, entah mengapa sepertinya suara letupan itu berpengaruh pada sistem saraf pada otaknya. Taeyeon terlihat begitu shock.

β€œ Aishh.. makanya berhenti membayangkan butt Tiffany Hwang! Kami akan menjemputmu! β€œ. Setelah mengatakan hal itu, Yoona langsung melompat ke kursi kemudi dan mulai menjalankan kendaraannya.

Disisi lain Tiffany berlari ditengah kegelapan, nafasnya tersenggal dan keringat dingin mengalir deras diseluruh tubuhnya. Suara letupan yang begitu keras telah membuat jantungnya berdegup kencang.

Ia berhenti berlari dan bersembunyi dibalik balok kontainer begitu melihat sebuah mobil van berhenti tak jauh darinya. Kedua matanya terlihat awas, gadis itu memeriksa keadaan disekitarnya. Merasa pengemudi itu tidak akan menyadari kehadirannya, Tiffany mulai berlari lagi. Sayangnya, gadis itu tidak melihat bahwa Hyoyeon menangkap siluet bayangannya sehingga gadis itu yang telah mendapatkan Kim Woo Bin menarik pelatuk bius dan tepat mengenai kaki Tiffany.

Tiffany tersungkur ditanah, ia mengerang pelan. Mencoba menahan rasa sakit yang mulai menjalar diseluruh tubuhnya.

β€œ Sepertinya kita sedang dalam keadaan beruntung, aku mendapatkan satu orang lagi. Assa!! β€œ. Hyoyeon berseru girang dan berhasil membuat tubuh Taeyeon terdiam kaku

β€œ K-kau mendapatkan Jessica?? β€œ tanya Taeyeon terbata-bata. Dia benar-benar tidak mau siapapun melukai Jessica, bahkan rekannya sendiri.

β€œ Sepertinya begitu, kita lihat β€œ. Sambil membawa Woo Bin, Hyoyeon mencoba memeriksanya. β€œ Seo, sebaiknya kau bawa pria ini terlebih dahulu β€œ

β€œ Ne, unnie β€œ. Seohyun keluar dari van dan berjalan menuju dimana Hyoyeon berada, sementara itu Yoona kini tengah mendaratkan kedua lutut ditanah untuk melihat luka Taeyeon.

β€œ Aihhh!! Aku tak menyangka peluru itu hanya numpang lewat dilehermu! Lihat, ini tak seberapa tetapi kau seperti akan mati saja β€œ ungkap Yoona dihadapan Taeyeon.

β€œ Tapi ini berdarah, Yoong! β€œ Suara Taeyeon meninggi, menutupi rasa malunya karena kesakitan hanya karena luka kecil.

β€œ Tetapi tidak sebanyak darah yang kau buat setelah merobek selaput dara Tiffany Hwang, bukan? β€œ

β€œ Heyy.. itu lain lagi! β€œ. Taeyeon menjitak gadis yang lebih muda darinya itu, β€œ Lagipula, kita belum sampai ke tahap itu β€œ

β€œ Mwo?? Apa aku tak salah dengar?? Hahaha.. kau seorang player, tetapi melakukan β€˜itu’ dengan gadis bernama Tiffany Hwang saja sulit. Sedangkan, sebelumnya kau seringkali bercinta dengan banyak gadis β€œ. Yoona menggelengkan kepalanya sambil mengobati luka rekannya.

β€œ Tetapi, jika peluru itu tidak mengenaiku lalu kemana? β€œ tanya Taeyeon penasaran

β€œ Apa kau mendengar sesuatu setelah bunyi letupan itu? Seperti suara besi kecil yang jatuh ke tanah? β€œ. Taeyeon menggelengkan kepalanya, justru Taeyeon baru sadar dengan apa yang terjadi setelah ia terkapar ditanah karna sebuah dorongan

β€œ Apa mungkin mengenai Jessica? β€œ

β€œ Kau yakin?? β€œ. Taeyeon mengangkat kedua bahunya tidak tahu..

.

.

β€œ Tiffany, kau baik-baik saja?? β€œ. Tiffany kembali mengerang, ia melihat suntikan kecil berada dikaki betis kanannya, lalu ia melihat bayangan siluet. Gadis itu mencoba sekuat tenaga untuk beranjak, mengabaikan pertanyaan Yuri yang terus terdengar ditelinganya dan memaksakan kedua kakinya untuk berlari.

β€œ Seo, tangkap dia! Aku akan segera kembali! β€œ. Hyoyeon mengerahkan seluruh kekuatannya, berlari mengejar sosok yang sudah berlari lebih dulu dari pandangannya. Keadaan malam yang begitu gelap ditempat itu membuat Hyoyeon harus menajamkan penglihatannya. Dan baru beberapa detik yang lalu ia melihat sosok itu, tetapi kini ia sudah kehilangan jejaknya.

Hingga kedua mata Hyoyeon membesar saat melihat cahaya lampu yang begitu terang menyinari penglihatannya. Cahaya itu semakin dekat dan menyilaukan pandangan seiring terdengar suara mesin motor yang menderu ke arahnya, saat jarak kedekatan mereka tinggal beberapa inchi lagi Hyoyeon memilih untuk melemparkan tubuhnya ke samping dan membiarkan sosok itu melarikan diri dengan kendaraannya.

β€œ SIAL! Dia melarikan diri dengan motornya! β€œ

.

Tiffany melajukan kendaraan bermotornya dengan kecepatan penuh, keadaan jalanan Seoul yang begitu lenggang memudahkan ia untuk terus melaju. Tetapi pandangannya mulai mengabur, tangan serta kakinya pun terasa sangat kaku. Kepalanya terasa pening ditambah karna sosok Yuri dan rekan team lainnya tak berhenti bicara dan itu membuat Tiffany terganggu.

Tak lama kemudian, gadis itu segera menghentikan kendaraanya dipinggir jalan yang cukup gelap, ia membuka masker yang menutupi sebagian wajahnya lalu membuka satu kancing bagian atas pada pakaiannya. Perutnya terasa sangat sakit dan membuat gadis itu mual.

β€œ Y-yuri-ah β€œ panggil Tiffany lirih dengan sisa kesadarannya

β€œ Ohh.. mengapa kau tidak bergerak?? Sesuatu terjadi?? β€œ tanya Yuri seiring melihat ke arah jam tangannya, dimana disana ia bisa melihat setiap pergerakan yang dilakukan satu rekan teamnya.

β€œ A-aku kelelahan, bisa kau jemput aku. Salah satu diantara mereka menembakku dengan obat bius β€œ

β€œ Kenapa tidak bilang dari tadi, pabo! Gidary–.. β€œ

β€œ Yuri, cepat jemput Tiffany! Keadaan gadis itu menurun! β€œ. Kali ini Sooyoung yang berucap, gadis itu mulai panik lantaran alat digital yang sengaja disetting untuk mengawasi semua rekan teamnya menimbulkan suara peringatan keselamatan.

β€œ Mwo?? Yah Tiffany! kau mendengarku??? β€œ

β€œ P ppalli y y yul, uhukk! β€œ

***

PLAK! PLAK!

Tamparan keras mendarat tepat di pipi kedua pria yang berdiri berdampingan dalam satu ayunan tangan. Bahkan salah satu pria itu terlihat memegangi pipinya dan menunduk. Pukulan itu terlalu keras untuk sekedar melampiaskan emosi.

β€œ Sakit? Iya? Lihat mataku ketika aku berbicara! ” teriak sosok itu didepan wajah pria yang memegangi pipinya. β€œ Kalian benar-benar tidak bisa diandalkan! ” sambungnya.

β€œ Ma-maafkan kami boss. Aku sudah mengunci targetnya. Kami sama sekali tidak tahu ka-kalau… β€œ. Pria itu menggantungkan kalimatnya, ia terdiam ketika merasakan tatapan sosok yang mereka panggil bos menusuk ke dalam matanya. β€œ Ka-kalau ada orang lain yang tiba-tiba muncul ketika kami hendak menarik pelatuknya. ”

PLAK!

Satu pukulan keras lagi mengenai kepala pria yang baru saja berbicara. Sang bos mengembuskan nafas berat, dia memijat kepalanya sambil berjalan kesana kemari, β€œ Apa kau yakin mereka tidak menyadari kehadiran kita atau bahkan melihat wajah kita? ” Seketika kedua pria itu mengangguk bersamaan. β€œ JAWAB! ”

β€œ T-tidak bos. β€œ spontan ucap salah satu pria. β€œ Kami ya-yakin tidak ada yang melihat atau menyadari kehadiran kita. β€œ

β€œ Bagus. Aku akan membuat kesempatan satu kali lagi untuk kalian. Jika kalian gagal, β€œ Sang bos berjalan menghampiri kedua pria itu dan menarik kerah pakaian mereka berdua, β€œ Kalian yang akan aku habisi saat itu juga. ” ucapnya penuh dengan penekanan, ancaman dan peringatan luar biasa yang berhasil membuat kedua pria merinding tak karuan.

β€œ Ba-Baik bos. ” kata mereka bersamaan dengan wajah ketakutan.

β€œ Kejadian ini ti-tidak akan terulang lagi. β€œ Mendengar jawaban itu, sang bos melepaskan kerah mereka.

Ring!

Sang bos meraih ponselnya, lalu menjawab panggilan itu sambil berjalan meninggalkan kedua pria yang sama sekali tidak berani merubah posisinya β€œ Aku akan kesana ”.

.

.

Tiffany Pov

J-Jessica?

Samar – samar aku melihat siluet dua gadis yang tidak aku kenal mendekati Jessica. Aku mengikuti gerak gerik gadis itu dan langkahku terhenti ketika aku melihat siluet Taeyeon dalam kegelapan. Spontan aku bersembunyi dibalik kotak peti kemas dan tetap memperhatikan gerak gerik kedua gadis ini yang seperti mengarah pada satu titik. Jessica.

Aku tidak mungkin menampakan diri dihadapan Taeyeon dalam keadaan seperti ini. Tetapi aku tidak mungkin juga membiarkan target kami kabur mengingat kami bekerja keras mengejar mereka.

β€œ Tiffany, apa kau menemukan mereka? ” Tiba-tiba suara Yuri membuayarkan lamunanku. Aku berpikir jawaban apa yang harus aku berikan pada Yuri tentang ini.

β€œ Mengapa kau tidak memberitahuku bahwa ada orang selain kita dan target disini, Kwon Yuri?? β€œ tanyaku dengan emosi, β€œ Pabo! Choi Sooyoung! Berhenti memakan cemilanmu! β€œ. Dapat kupastikan bahwa Sooyoung yang mendengar perbincangan kami langsung terkejut dan menjatuhkan snacknya, itu terdengar jelas dari handsfree ditelingaku. Gadis itu mengerang karna mungkin menyesal tidak memegang kuat makanannya. β€œ Lakukan sesuatu! β€œ

β€œ Aishh.. geurae, tunggu sebentar! β€œ. Detik selanjutnya dapat kudengar lagi bahwa diseberang sana Sooyoung duduk dikursinya, kedua tangannya mulai bergerak di atas keyboard laptopnya. Sementara itu, aku memilih untuk menunggu intruksi dari Sooyoung sambil berpikir keras tentang strategi apa yang harus dilakukan.

Spontan mataku menyapu lingkungan sekitar dan menemukan sosok yang mencurigakan berdiri di atas peti kemas. Pencarianku terhenti, ketika melihat kilatan lampu dermaga yang terpantul mengenai benda asing. Aku memicingkan mataku dan memastikan apa itu benar-benar…. senapan!!! Seketika aku belari sekencang mungkin setelah tahu senapan itu mengarah ke arah dimana Taeyeon berada.

β€œ Tae.. Tunggu aku ” ucapku dalam hati. Bayangan Taeyeon melintas dipikiranku. Tawa ahjumma-nya, senyum manisnya, candaan konyolnya, pikiran-pikiran kotornya, bahkan bibir tipis yang pernah aku cicipi sebelumnya benar-benar mengusikku saat ini. Aku harus bisa menyelamatkan Taeyeon! Harus!

β€œ Tae-Taeyeoooon!!!!!!! ” batinku berteriak. Aku semakin gencar berlari menghampirinya dan aku hampir meraihnya! A-aku….

BANG!!

Author pov

β€œ T-tidak Tae!! ” Teriak Tiffany dengan kedua mata yang terbuka lebar, gadis itu baru saja terbangun dari mimpi buruknya.

Tiffany mencoba mengatur nafas yang begitu berat dan mengembalikan kesadarannya. Lampu langit-langit diatasnya begitu menyilaukan pandangan hingga sesosok bayangan tertangkap oleh indera penglihatannya, awalnya masih mengabur namun perlahan siluet itu semakin terlihat jelas dan Tiffany langsung mengenali sosok itu. β€œ Y-Yuri ah, apa yang terjadi? ”

Dengan lembut Yuri mengusap peluh di kening Tiffany, β€œ Peluru yang masuk ke bahu kananmu semalam membuat kami hampir kehilanganmu. β€œ Sangat jelas Tiffany bisa melihat Yuri begitu mengkhawatirkan dirinya. Tiffany diam, dia meraba bahu kanannya yang sudah terbalut perban yang cukup tebal. β€œ Sooyoung yang mengambil peluru itu dari bahumu. β€œ sambungnya

β€œ B-b-bagaimana bisa? Lalu dimana Sooyoung? ” Tanya Tiffany seiring menahan rasa sakit di bahunya. Bahkan Tiffany seolah masih merasakan bahwa peluru itu memberikan effect panas yang terasa membakar bahunya, hingga wajah Tiffany benar-benar pucat dan kesakitan. Selama dia bekerja menjadi spy, baru kali ini ia mendapatkan hadiah peluru menembus tubuhnya.

Dengan dagunya, Yuri menunjuk dimana Sooyoung berada dan Tiffany mengikuti kemana dagu Yuri mengarah. Tifffany melihat Sooyoung terduduk di lantai dengan wajah yang sangat kelelahan sambil memegang alat pacu jantung. Perlahan Tiffany beranjak duduk dibantu oleh Yuri. β€œ A-apa yang kau lakukan disana? ” sambung Tiffany.

Sooyoung beranjak berdiri dan segera menghampiri Tiffany dengan wajah yang begitu kesal.

TAK !

Satu sentilan keras dari telunjuk Sooyoung mendarat di dahi Tiffany, seketika kening putih nan pucat milik Tiffany pun berhiaskan lingkaran warna merah yang mencolok, β€œ AW! ” ringis Tiffany sambil memegang dahinya.

β€œ Sekali lagi kau seperti ini, aku akan benar-benar membunuhmu, Tiffany Hwang! β€œ Kata Sooyoung dengan tatapan tajam dan nada bicara yang tinggi, β€œ Ingat itu! ”. Sooyoung melangkah keluar ruangan meninggalkan Yuri dan Tiffany yang masih berpikir apa maksud Sooyoung sebenarnya.

β€œ Bisakah kau jelaskan ada apa dengan Sooyoung sambil menyuapiku? Aku benar-benar lapar, Yul. β€œ Kata Tiffany yang masih memegang keningnya, β€œ Sentilan anak itu benar-benar kuat. Aku perlu membalasnya sewaktu-waktu β€œ umpat Tiffany pelan membuat Yuri menggelengkan kepalanya sambil terkekeh.

Lalu, Yuri bergegas mengambil makanan untuk menyuapi Tiffany, β€œ Apa kau tahu jika sebelumnya Sooyoung adalah calon dokter bedah yang gagal meraih gelarnya? Namun, lamanya kuliah yang harus ditempuh membuatnya bosan sehingga ia keluar dari sekolah kedokteran ” Tiffany menggelengkan kepala keheranan.

β€œ Benarkah? Choi Sooyoung? Bocah itu? ” Tanya Tiffany dengan mulut yang penuh dengan makanan. Yuri mengangguk seraya membersihkan sisa makanan di sudut bibir Tiffany dengan ibu jarinya.

β€œ Semalam ketika kami berdua menunggumu, dia bercerita padaku. Awalnya aku tidak percaya dia akan mengambil peluru itu dari bahumu, tapi keadaanmu terlalu gawat untukku berpikir panjang dan Sooyoung berjanji akan menjelaskan padaku nanti β€œ.

Flashback

β€œ Ayolah Yuri. Kau percaya padaku kan? Apa kau yakin akan membawa Tiffany ke Rumah Sakit Kota? Bukankah itu akan mengancam keselamatan Tiffany? ” rengek Sooyoung meyakinkan Yuri yang sedang menyetir dengan perasaan yang sangat gelisah.

β€˜Benar kata Sooyoung, Tiffany tidak mungkin aku bawa ke rumah sakit mengingat keselamatan identitasnya. Tapi.. apa bocah sembrono ini benar-benar bisa menyelamatkan Tiffany’ Batin Yuri terdiam dalam lamunannya.

β€œ Oh ayolah Yuri ”. Sooyoung mengguncang-gguncangkan tubuh Yuri agar cepat memberikan keputusan. Bagi Yuri, belum pernah ia melihat mata Sooyoung memancarkan kekhawatiran, sekaligus keyakinan yang kuat untuk melakukan hal nekat seperti itu demi menyelamatkan nyawa seseorang. β€œ Aku akan menjelaskan semuanya padamu nanti. Ya? Beri aku satu kesempatan dan aku tidak akan mengecewakanmu. Aku juga tidak mungkin membuat Tiffany dalam bahaya ”

β€œ Jadi aku harus membawanya kemana? ” tanya Yuri tanpa pikir panjang lagi.

Sooyoung meninju udara kegirangan lalu meraih ponselnya untuk menghubungi seseorang. β€œ Aku menyewa klinikmu. Dan jangan ada siapapun yang datang ke klinik sampai aku selesai menyewanya! β€œ ucapnya pada orang diseberang sana yang berhasil membuat dahi Yuri mengerut dalam.

Sesampainya di klinik, Sooyoung menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan dan Yuri membantu membersihkan luka Tiffany yang masih tidak sadarkan diri. Melihat kegigihan Sooyoung, membuat Yuri sangat percaya bahwa rekan teamnya ini dapat mengeluarkan peluru itu dari bahu Tiffany. Dengan cermat, Yuri memperhatikan Sooyoung bekerja dan sekaligus membantunya mengambilkan beberapa alat-alat medis yang Sooyoung sebutkan.

β€œ Aku tahu, meskipun aku menceritakan semuanya, kau pasti tidak akan percaya kalau aku ini seorang mantan calon dokter β€œ Kata Sooyoung sambil menjahit luka Tiffany. Yuri terlonjak kaget, ia sama sekali tak menyangka bahwa tampang Sooyoung yang selama ini tidak memperlihatkan anak pintar ternyata mantan calon dokter.

β€œ Lalu, kenapa kau berhenti? ” Tanya Yuri penasaran.

β€œ Aku bosan ” Jawab Sooyoung singkat yang langsung mendapat jitakan keras dikepalanya. β€œ Aw! Sakit, bodoh! Aku bosan Yuri. Benar-benar bosan. Ketika aku hampir menyelesaikan Studyku, aku berbicara pada orang tuaku bahwa aku sudah berhenti dan aku akan membuka usaha restoran. Aku rasa aku tidak cocok menjadi dokter. Iya kan? Wajahku saja tidak mendukung. Aku suka masak, aku tidak suka mengobati orang lain.” Cerita Sooyoung pelan – pelan. β€œ ketika aku berbicara itu dihadapan orang tuaku. Aku dibuang ke Seoul bersama kakakku dan klinik ini milik kakakku. ”

β€œ Kau benar-benar gila Sooyoung. Lalu kenapa kau memutuskan untuk masuk ke agen rahasia dan tidak membantu kakakmu di klinik ini? ”

Sooyoung mulai membalut jahitan Tiffany dengan perban, β€œ Walaupun aku tampak bodoh, ya walau kenyataannya sebut saja aku memang bodoh, selain aku suka memasak, aku juga suka sekali menciptakan alat-alat rahasia seperti alat-alat yang ada ditubuhmu itu. Well, sesungguhnya aku lebih memilih bekerja bebas penuh tantangan dengan teknologi yang tak terbatas hanya sekotak komputer dan robot.”

Tiffany terlihat kesusahan menelan makanannya begitu mendengar cerita tentang Sooyoung dari Yuri. Tiffany pikir selama ini dia benar-benar sudah mengenal Sooyoung, namun nyatanya salah. Ternyata Tiffany sama sekali tidak tau sisi lain dari Sooyoung yang dia kenal sebagai orang paling ceroboh itu. Hal itu membuat Tiffany merasa bersalah karena telah meremehkan Sooyoung selama ini. β€œ Benarkah seperti itu Yul? β€œ

β€œ Apa kau terkejut mendengarnya? Ah aku juga begitu tadinya. β€œ Yuri menyuapi Tiffany lagi, β€œ Ah, Fany-ah. Bagaimana kau tahu ada agen lain di lokasi itu? Apa kau mengenali mereka? Bagaimana kau bisa tertembak? β€œ

Seketika Tiffany gugup. Pori-pori kulitnya perlahan mulai terbuka lebar untuk memproduksi keringat dingin ditubuhnya, Tiffany tidak mungkin menceritakan pada Yuri bahwa ia terkena tembakan karena untuk menyelamatkan Taeyeon yang sudah jelas-jelas adalah rivalnya. β€œ Aku melihat agen lain di lokasi itu dengan kedua mata kepalaku sendiri, Yuri-ah. Bahkan aku melihat ada seseorang yang berada di Rofftop siap dengan senjatanya. Aku yakin itu bukan bagian dari kita dan aku tidak yakin ada berapa agen yang berada di lokasi itu selain kita. β€œ

β€œ Iya, aku sempat melihatnya tapi sangat tidak jelas mengingat jarakku yang sangat jauh pada saat itu. Tetapi setahuku, tembakan itu mengarah pada Jessica dan kau berlari ke arahnya. Bukan begitu? β€œ tanya Yuri sambil memicingkan kedua matanya, seolah gadis itu tengah mengingat kembali kejadian semalam.

Kegugupan Tiffany semakin nampak, tetapi sekuat tenaga ia mencoba menutupinya. Dan Yuri seolah terlihat mencium sesuatu yang aneh, karena jika dari lokasi Yuri berdiam diri, sesungguhnya ia bisa melihat semuanya. Tetapi saat itu, lokasi disekitar benar-benar gelap. Andai Yuri mendapatkan sedikit sinar, mungkin gadis itu bisa melihat semuanya. β€œ B-Bukankah kita membutuhkannya dalam keadaan hidup? ” tanya Tiffany

Yuri menganggukkan kepalanya, β€œ Ahh.. matta, kalau begitu siapa yang berniat menembak Jessica? Sepertinya seseorang tidak ingin Jessica tertangkap, karna jika tidak terjadi penembakan, mungkin kita sudah mendapatkannya hidup-hidup β€œ ujar Yuri, namun tetap saja ada kejanggalan yang terasa oleh Yuri tentang gadis dihadapannya.

***

β€œ S-sakkiitt!! ” Teriak Taeyeon begitu kencang, namun hal itu tidak menghentikan aksi Seohyun. β€œ Hyunnie, pelan-pelan! Ini sakit!! Aw! Aw! ”

β€œ Mianhae, Unnie. Aku harus membetulkan ini, kau memasang plesternya menyentuh luka. Jadi tahanlah sedikit, unnie. β€œ Kata Seohyun lembut seiring melepas plester dari leher Taeyeon secara perlahan.

β€œ Aw! Aw!! S-sakit! ”. Taeyeon semakin meronta-ronta dan berteriak semakin kencang. Sungguh, aksi gadis itu seperti anak kecil yang baru saja jatuh dari sepeda dan menangis kesakitan lantaran luka yang didapat di lututnya.

Yoona yang duduk tak jauh dari mereka menutup kedua kupingnya, β€œ Ish! Berisik kau, unnie. Apa kau juga berteriak sekencang ini ketika Tiffany menyentuhmu? ”

β€œ Sudah aku bilang aku belum menyentuhnya, bodoh! β€œ Kata Taeyeon kesal, lalu melempar handuk kecil yang ada di sampingnya. Dengan tepat, Yoona menangkap handuk itu dan terkekeh.

β€œ Ah.. Sayangnya aku sudah tidak percaya padamu lagi, unnie. Kau selalu membohongiku. Aku bertaruh, kau juga berteriak sekencang itu ketika Tiffany menyentuhmu. ” Yoona mengedipkan sebelah matanya ke arah Seohyun dan Seohyun tersenyum, sedangkan Taeyeon diam sambil menatap kesal ke arah Yoona. Dia tidak bisa melakukan apa-apa karena Seohyun sedang merawat lukanya. β€œ Ah Tiffany-ssi sssh aah s-sakit! Harder baby.. hmmm.. ” Kata Yoona sedikit mendesah, seiring memejamkan mata sebelum tawa menggelegar Yoona memenuhi ruangan mereka.

Wajah Taeyeon memerah, tampak sekali jika dia menahan kesal dan ingin segera memukul Yoona, β€œ Ya! Kau benar-benar mengejekku, eoh? Awas kau Yoong!! ”

β€œ Hahahahaha kau tidak bisa menyerangku sekarang, Unnie. β€œ Angkuh Yoona dengan wajah yang benar-benar membuat Taeyeon tambah kesal. β€œ Uuhhhh Baby.. Yeahhhh!!! Fuck me harder ohhh~ hahahahahaha ” ledeknya yang semakin melanglang buana.

β€œ Kau sedang apa Yoong? ” Tiba-tiba suara Hyoyeon menghentikan tawa Yoona.

β€œ Aku sedang membantu Hyunnie mengalihkan perhatian si bocah kecil ini yang berisik. Hahahaha β€œ Lagi-lagi tawa Yoona membuat Taeyeon naik pitam. Kali ini Taeyeon melempar bantal besar dan lagi-lagi Yoona menangkapnya.

β€œ Aku benar-benar muak dengan bocah itu. β€œ gerutu Taeyeon yang langsung mendapat senyuman dari Hyoyeon. β€œ Apa kau mendapat kabar baik dari penyelidikan? β€œ tanya Taeyeon pada Hyoyeon.

Hyoyeon duduk tepat di meja dimana Yoona menempelkan buttnya, β€œ Aku sama sekali tidak peduli dengan penyelidikan itu. Lagi pula aku tahu. Kim Woobin merupakan pelanggan utama Mr. Jung. Aku yakin sebentar lagi Mr. Jung akan mengalami kebangkrutan dan kita bisa menangkapnya dengan mudah. β€œ

β€œ Apa ada rencana lain setelah ini? ” Tanya Seohyun sambil membereskan kotak obat.

β€œ Sementara ini aku rasa belum ada. Tunggu sampai kondisi benar-benar membaik lagi β€œ Ujar Hyoyeon dan langsung mendapat anggukkan dari ketiga rekannya.

***

Sepasang kaki turun dari pesawat Jet pribadi yang begitu mewah. Terlihat dari kejauhan, sepatu yang dikenakannya bukan sepatu yang sembarangan. Sepatu cokelat kulit buatan Italia yang begitu menawan dengan jahitan tangan yang begitu rapih dan hanya ada beberapa buah di dunia. Beberapa orang berjas hitam berdiri di salah satu sisi tangga pesawat jet untuk menyambut pria itu.

Seorang pria lainnya terburu-buru menyamput pria yang baru saja turun dari pesawat dan berjalan disampingnya, β€œ T-tuan, ada yang harus saya sampaikan pada anda, β€œ

Tanpa menghentikan langkah kakinya, dia mengangkat tangan kirinya, β€œ panggil dia secepatnya, aku ingin berbicara dengannya segera. β€œ

β€œ B-baik tuan, β€œ

 

 

BLANC & ENCLARE AKAN RILIS AWAL MUSIM PANAS INI

Mr. Jung membuang majalah yang tergeletak rapih di mejanya begitu dia membaca highlight majalah itu. Dia duduk lalu memijit kepalanya, β€œ Anak itu tidak meminta ijin dariku dan sekarang membuat pelanggan utamaku tertangkap! β€œ

Nafasnya begitu berat. Ancaman kebangkrutan bisnisnya didepan mata. Bahkan, ia tidak yakin bisa bangkit memulihkan bisnisnya seperti kebangkrutan-kebangkrutan yang pernah dia alami sebelumnya.

Disisi lain, seseorang terlihat berjalan menyusuri koridor menuju salah satu ruangan yang terdapat di ujung lorong. Wajahnya tampak begitu pucat, bahkan beberapa kali dia terlihat menggigit bibir bawahnya. Sesampainya didepan pintu, dia menarik nafas panjang sebelum membuka pintu itu. Dari tempat dia berdiri, dia melihat wajah Mr Jung yang begitu frustasi. Tanpa sepatah kata apapun, dia memasuki ruangan itu lalu menunduk dihadapan Mr Jung.

β€œ Apa kau bisa menjelaskan apa yang terjadi? β€œ Pertanyaan Mr Jung membuatnya diam tertunduk, dia sama sekali tidak berani melihat ke arah Mr Jung. Bahkan kesan angkuhnya yang selalu dia perlihatkan dihadapan semua kliennya runtuh begitu saja. β€œ Apa kau tahu tujuanku menyewamu dan mempercayakan semuanya padamu? β€œ

β€œ A-Aku sudah berusa~.. ”

β€œ Kau tak pernah mengecewakanku sebelumnya β€œ

β€œ A-aku berjanji tuan. Beri aku kesempatan untuk memperbaikinya dan aku berjanji hal ini tak akan terulang lagi β€œ

β€œ Pergilah. Aku tidak tahan melihatmu terlalu lama β€œ

.

.

Jessica terlelap dalam pelukan Minyoung. Dia sama sekali tidak berniat melepaskan pelukannya. Jessica masih gemetaran dan terlihat pucat, kejadian semalam membuat adiknya begitu takut membuka mata.

β€œ Sica ”. Minyoung mengusap pipi Jessica dengan ibu jarinya, β€œ Kau demam. Aku akan mengambilkan kompres untukmu ”

Saat Minyoung baru saja akan beranjak dari sisi Jessica, dengan cepat Jessica menahannya dan memeluknya erat β€œ Aku tidak membutuhkan apapun saat ini. Aku hanya membutuhkanmu. Unnie, aku takut β€œ

β€œ Kau tidak perlu takut dengan apapun, sayang. Selama aku disampingmu semua akan baik-baik saja β€œ. Minyoung mengusap lembut rambut Jessica dan mencium kepalanya sesekali. Minyoung sangat hafal, mengusap kepala Jessica adalah cara yang paling ampuh untuk menenangkan adiknya itu. Bagi Jessica usapan itu bagaikan belaian lembut yang sering dilakukan oleh ibunya sebelum Mrs Jung meninggalkannya untuk selamanya.

Dengan penuh kasih sayang, Minyoung membalas memeluk Jessica, β€œ Seharusnya aku tidak pernah membiarkanmu melakukan transaksi apapun. Kau begitu berharga untuku, Sica. β€œ

β€œ Aku ingin mencobanya. Aku juga harus mandiri. Tidak selamanya aku bisa menggantungkan diri padamu. Aku ingin mendapatkan kepercayaan dari dad untuk membuka usahaku kalau aku melakukan apa yang dia inginkan. β€œ. Tangis Jessica pecah, rasa ketakutan yang semalam menghantuinya muncul kembali. β€œ Kau harus ikut denganku. Aku akan menanggung semua kebutuhanmu dan jangan pernah ikuti apa yang dad mau. β€œ

β€œ Aku akan ikut kemanapun kau pergi, sayang. β€œ Minyoung sering mendengar janji itu sejak mereka kecil. Walaupun mereka tidak dilahirkan sedarah, tetapi Jessica begitu menyayangi Minyoung dan sebaliknya gadis itu. Hanya Park Minyoung yang begitu memperhatikan Jessica, bahkan Jessica melihat sosok ibunya dalam diri kakak angkatnya itu.

β€œ Aku berjanji akan selalu melindungimu ” ujar Minyoung

***

Dua hari telah berlalu, selama itu Sunny yang mengetahui bahwa Tiffany tertembak menyuruh keras sosok gadis itu untuk beristirahat total. Bahkan, Sunny memutuskan untuk menginap di markas untuk menjaga Tiffany bersama Yuri dan Sooyoung yang kebetulan pada saat itu sedang dilanda rasa manja terhadap sang kekasih.

Betapa memalukannya saat Tiffany dan Yuri melihat aksi lovey dovey atasannya dengan Sooyoung, bahkan berkali-kali Tiffany maupun Yuri bertanya-tanya pada Sooyoungβ€”ramuan apa yang sebenarnya Sooyoung masukkan ke dalam makanan Sunny, sehingga atasan mereka memilih Sooyoung untuk menjadi kekasihnya.

Melihat pasangan itu ber-lovey dovey, rasanya Tiffany ingin melemparkan tiang infusan di wajah mereka. Namun, sebenarnya bukan itu masalahnyaβ€”Tiffany hanya merasa cemburu karna ia tak bisa melakukan hal yang sama selama 2 hari ini bersama Taeyeon.

Tiffany sangat merindukan Taeyeon yang masih berstatuskan sahabat untuknya.

β€œ Setelah kau kembali ke apartment, bukan berarti kau bebas bergerak dan pergi sesuka hatimu. Lukamu itu masih basah, Fany-ah β€œ ujar Sunny yang tengah mengemudikan kendaraannya untuk mengantar Tiffany ke apartmentnya.

β€œ Hm, aku mengerti. Lalu, apa rencanamu sekarang ini? β€œ tanya Tiffany sekilas menoleh ke arah Sunny

β€œ Hmm.. yang jelas, aku ingin lukamu itu sembuh total terlebih dahulu. Aku tak ingin hal kemarin terjadi lagi, aku tak bisa membayangkan apa yang terjadi jika malam itu kau tidak bisa diselamatkan. Please, jaga dirimu dengan baik, Tiffany β€œ

β€œ Ck.. aku seperti bayi raksasa kalau seperti ini terus β€œ gumam Tiffany yang terdengar jelas oleh Sunny, membuat gadis itu terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.

Setelah menempuh waktu 30 menit akhirnya, Tiffany bisa menginjakan kaki di apartemennya setelah sekian lama ia tidak memasuki ruang pribadinya itu. Ia benar-benar merindukan kelembutan sprai membelai kulitnya, atau kesegaran air membasuh badannya yang penuh dengan peluh kelelahan.

Satu per satu pakaian Tiffany tanggalkan seiring langkahnya menuju kamar mandi. Tubuhnya membutuhkan kesegaran. Perlahan tapi pasti, tetes demi tetes air menerpa tubuh putihnya. Tiffany berdiam diri dan meraba luka tembak di bahunya, rasa perih mulai menjalar di bahuya namun Tiffany selalu mampu menahan rasa sakit yang teramat itu.

Tidak mudah bagi Tiffany melupakan luka itu. Luka yang didapat karena menyelamatkan orang yang mulai menyita seluruh perhatiannya. Apa benar ini yang dia inginkan? Dia benar-benar tidak bisa memilih. Taeyeon, orang yang baru saja ia kenal dan sekaligus rivalnya, atau teman satu tim yang juga menyayanginya sebagai sodara? Memilih salah satu diantara mereka, sungguh Tiffany tidak mampu melakukannya. Keduanya sangat berharga baginya.

β€œ Sepertinya aku mulai gila.” Tiffany membiarkan air shower menerpa kepalanya. Dia merindukan kesegaran itu, menikmati pijatan-pijatan ringan air yang menerpa kulitnya. Berharap air itu dapat membantunya untuk membersihkan pikiran mengenai Taeyeon.

Setelah 30 menit dihabiskan untuk merasakan guyuran air dari shower, Tiffany bergegas mengeringkan tubuhnya dan menggunakan pakaian yang baru.

TingTong!

Suara bel apartemen Tiffany berbunyi. Dia jarang sekali menerima tamu, mengingat dia juga jarang berdiam diri di apartemennya. Dari layar intercom, Tiffany dapat melihat jelas gambar Taeyeon yang sedang memperlihatkan gigi-giginya ke arah kamera. Tiffany tersenyum manis lalu berlarian kecil menuju pintu. Ketika pintu itu dibuka, dia melihat Taeyeon mengangkat beberapa kantung plastik belanjaan seiring tersenyum begitu lucu.

β€œ Apa aku mengganggumu? ” Tanya Taeyeon yang tak kunjung dipersilahkan masuk. Tiffany, gadis itu terlihat masuk dalam pesona seorang Kim Taeyeon begitu melihat senyum gadis mungil tersebut.

Lalu, Tiffany pun segera tersadar seiring mengangguk dan tersenyum sambil mundur beberapa langkah dihadapan Taeyeon, β€œ Masuklah β€œ ajaknya

Dengan langkah pasti, Taeyeon masuk ke dalam apartemen Tiffany. Ini adalah kali pertama bagi Taeyeon menginjakkan kaki disana, sebuah apartemen yang hampir 95% semuanya berwarna pink. β€œ Kau suka warna pink? ”

β€œ Semua gadis suka warna pink, β€œ Ujar Tiffany sambil menyiapkan minuman untuk Taeyeon.

β€œ Kecuali aku. ”. Taeyeon memandang ke sekeliling dengan wajah keheranan, β€œ Kau maniak pink. Aku tidak menyangka, ternyata kau ini pink monster β€œ

Tiffany menghampiri Taeyeon dan duduk di sebelahnya sambil menyimpan secangkir minuman hangat di meja, β€œ Jadi, kau kemari hanya ingin mengejekku? Kau tahu apartemenku dari mana? Apa kau mengikutiku? β€œ

β€œ Apa kau ingat taruhan yang belum kau lunasi? Aku pernah mengantarmu sampai ke gedung ini. Aku hanya perlu mengedipkan sebelah mataku agar aku mendapatkan informasi berapa nomor apartemenmu dari pelayan coffe shop yang ada di lobby. β€œ Angkuh Taeyeon yang mendapat senyuman dari Tiffany.

Tiffany menopang dagunya dan bertumpu di paha yang ia silangkan. Dari tempat Taeyeon duduk, terlihat jelas paha mulus Tiffany. β€œ Baiklah nona Taeyeon. Jadi, apa yang kau inginkan dariku? β€œ

Taeyeon nampak salah tingkah seperti anak kecil yang mendapat nilai jelek di ulangan matematikanya. β€œ Hm… a-aku hanya ingin kau menemaniku memakan semua makanan yang aku beli ini. Apa kau mau? β€œ

Tiffany menangkap sinyal itu. Dia tersenyum, lalu mengulurkan tangannya dihadapan Taeyeon β€œ Ikutlah denganku β€œ

Tanpa ragu Taeyeon menyambut tangan Tiffany. Dia mengikuti kemanapun Tiffany membawanya. Taeyeon memperhatikan Tiffany dari belakang, bentuk tubuhnya yang langsing, lehernya yang jenjang atau betis kaki Tiffany yang begitu kecil dengan butt yang lumayan besar dan bayangan-bayangan keseruan lainnya hinggap dikepala Taeyeon, membuat hormon gadis mungil itu turn on. Karena sibuk memperhatikan Tiffany, Taeyeon tidak menyadari bahwa mereka sudah sampai di depan pintu sebuah ruangan dan Tiffany sedang melihat dirinya melamun.

β€œ Apa yang kau lihat, Tae? ” Spontan lamunan Taeyeon buyar. Tanpa menunggu jawaban Taeyeon, Tiffany membuka pintu itu dan menggandeng Taeyeon masuk.

Hanya terdapat sedikit cahaya dari lampu minimalis yang memperlihatkan bar kecil dengan interior mewah. Di sudut ruangan terdapat meja bar dan botol-botol anggur berbaris rapi dengan gelas-gelas mewah yang bergantung tepat diatas meja. Ruang itu begitu rapih dan begitu indah menampilkan kesan mewah, berbeda dengan ruangan lain yang hanya dibalut wana pink.

β€œ Kau suka ruangan ini? β€œ. Sejak Tiffany menggandeng Taeyeon memasuki ruangan itu, Tiffany sibuk melihat wajah Taeyeon yang begitu menggemaskan, wajah yang sibuk melihat setiap inchi dari ruangan itu. Terpaan cahaya yang remang membuat wajah Taeyeon lebih tampak menggoda.

β€œ Kau mendesainnya sendiri? β€œ Tanya Taeyeon sambil menatap wajah Tiffany yang tak lama kemudian mengangguk. Tiffany menuntun Taeyeon untuk duduk disalah satu kursi bar sebelum dia berjalan menuju meja bar tersebut. Dia berjinjit sedikit untuk mengambil dua gelas yang menggantung diatas, spontan Taeyeon melihat jelas lekukan tubuh Tiffany dihadapannya dan membuat gadis mungil itu kesulitan untuk menelan ludahnya.

β€œ Apa kau mau bercerita kemana saja kau pergi? Mengapa kau baru mencariku sekarang? β€œ tanya Tiffany sambil menuangkan anggur ke dalam gelas mereka.

β€œ Aku sibuk bekerja. Maaf aku baru menemuimu sekarang. β€œ Tanpa Taeyeon ketahui, Tiffany memberikan sedikit serbuk obat yang bisa membuat Taeyeon benar-benar mabuk sesaat. Tiffany harus menggunakan kesempatan ini untuk mengorek informasi mengenai Jessica sebanyak-banyaknya.

β€œ Pekerjaan seperti apa yang bisa membuatmu melupakanku? β€œ Tiffany menyimpan sebuah gelas dihadapan Taeyeon, lalu duduk disebelah Taeyeon sambil menggoyangkan anggur di gelasnya secara perlahan.

Taeyeon meraih gelasnya dan meneguk minuman itu perlahan, β€œ Tidak terlalu berat β€œ. Dengan berani Taeyeon menggenggam tangan Tiffany, lalu menarik gadis itu untuk duduk di pangkuannya. Taeyeon memeluk pinggang Tiffany dan mencium pundaknya.

Tanpa Taeyeon ketahui, Tiffany terlihat gugup dan takut ia harus meringis jika tiba-tiba Taeyeon menyentuh luka dimana peluru itu mendarat ditubuhnya. Namun, sekuat tenaga Tiffany berlaku professional. Ia hanya perlu memastikan bahwa gadis mungil dihadapannya ini tidak mengetahui luka tersebut.

β€œ Benarkah? Wajahmu menunjukan kau sedang banyak pikiran, Tae ” Tiffany meletakan gelasnya di meja, satu tangannya memeluk leher Taeyeon dan satu tangan yang lainnya mengusap pipi gadis mungil itu. Tanpa sengaja, Tiffany menyentuh luka di leher Taeyeon. Diam-diam Tiffany menghela nafas lega, lantaran Taeyeon hanya mendapatkan luka kecil malam itu.

Taeyeon menyimpan gelasnya diatas meja, β€œ Aku hanya membutuhkanmu, Fany-ah β€œ. Mendengar intonasi lirih dari Taeyeon, seketika Tiffany merasakan kesedihan hadir dalam dirinya. entah mengapa, ia mendadak seperti ini padahal Taeyeon sama sekali tidak melakukan apapun, ia hanya seolah merasakan apa yang tengah Taeyeon rasakan.

Tak lama kemudian, Tiffany menunduk dan mulai mencium bibir Taeyeon penuh kehangatan. Tiffany dapat merasakan beban berat yang dialami Taeyeon dari ciuman itu. Tangan Taeyeon pun mulai meraba punggung Tiffany, begitu juga Tiffany yang membenarkan posisi duduknya sehingga bisa berhadapan dengan Taeyeon. Tiffany menjambak rambut Taeyeon dan menekan kepala gadis mungil itu untuk semakin memperdalam aksi ciuman mereka, lalu menciptakan gesekan-gesekan yang menggairahkan. Perlahan, tangan Taeyeon menyusup masuk kedalam kaos tipis yang dikenakan Tiffany.

β€œ Ngh.. β€œ. Satu desahan keluar dari mulut Tiffany, ketika kedua tangan Taeyeon meremas dadanya seiring ciuman gadis mungil itu turun ke jenjang leher Tiffany.

Tiffany menggigit bibirnya, merasakan sensasi yang luar biasa atas perlakuan Taeyeon padanya. Disisi lain, ia khawatir karna cepat atau lambat tangan Taeyeon akan menelusuri seluruh punggungnya hingga menyentuh letak luka tersebut.

β€œ Fany-ah, i want you β€œ ucap Taeyeon, sesaat menghentikan aksinya dan menatap dalam kedua mata Tiffany. β€œ Please β€œ sambungnya.

Tiffany terdiam, tak tahu apa yang harus dilakukannya. Menolak Taeyeon, itu sama saja dengan ia yang menyakiti dirinya sendiri. Tetapi jika menerima permintaan Taeyeon..

Tiba-tiba, Taeyeon beranjak dari tempat duduknya yang tentu saja membuat Tiffany ikut beranjak dari pangkuan Taeyeon. Gadis mungil itu mendorong cepat tubuh Tiffany hingga mendarat di atas sofa yang cukup besar diruangan itu. Tiffany benar-benar telah membangunkan hormonnya yang selama ini tertahan untuk memiliki gadis itu.

β€œ Akhh.. hh β€œ. Tiffany meringis diiringi desahan agar Taeyeon yang tengah mencium lehernya itu tidak curiga, disaat Taeyeon yang begitu liar mencumbunya, Tiffany merasakan kembali rasa sakit pada lukanya yang perlahan menjalar diseluruh tubuhnya.

Menyakitkan, hingga gadis itu tak sengaja menjambak rambut Taeyeon cukup keras. Bagi Taeyeon mungkin hal itu adalah respon baik bahwa Tiffany menikmatinya, nyatanya adalah bahwa Tiffany tengah menahan rasa sakit dibahunya.

Saat Taeyeon baru saja akan membuka pakaian Tiffany, gadis yang berbaring di bawah Taeyeon itu menghentikan aksinya membuat tangan Taeyeon berhenti bekerja sesaat dan menatap Tiffany bingung.

β€œ C c chankman, Tae β€œ

β€œ Kenapa? Apa kau tidak–.. β€œ

β€œ A a aniya hanya saja–.. β€œ

β€œ Fany-ah β€œ panggil Taeyeon dengan pandangan mata yang begitu dalam pada Tiffany.

β€œ N n ne? β€œ

 

 

 

Bruk

β€œ Taeyeon-ah! β€œ

TBC

 

Author’s notes:

Mari kita bertepuk tangan hahahaha…

Basah deh basah, dikit tapi *pasang muka tak berdosa*

Jangan berharap kalau west javana akan update cepet ya, karna kami adalah orang-orang yang cukup santai membuat cerita ini. Yang penting sekali update panjang dan mudah-mudahan memuaskan lah ya hahahaha..

Nah, ada pesan nih dari partner ane:

Dear readers,

Aku minta maaf karena belum bisa ngelanjutin cerita ini secepatnya, terutama buat partner aku yang sampai bosen ditanyain mele kapan update ini cerita *nunduk pasrah*. Aku baru kelar menyelesaikan tugas negara tanggal 13 april kemaren dan.. yey! Aku lulus hahaha *gak penting*. Sekarang (seenggaknya) otaknya udah gak dipenuhi sama tugas membasmi alien dari bumi. Maaf atas keterlambatan ini *bow*. Terima kasih buat readers yang nungguin cerita ini dengan sabar J

  • Kapten Kaoru –

 

55 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s