Deaf [2]

Deaf [2]

By: InfinityPenguins

(http://www.asianfanfiction.com/profile/view/320130)

Translator by: F

Ini hanya untuk hiburan semata, bagi yang tidak menyukainya tinggalkan ff ini. Dan diharapkan jika ingin copy paste, sertai pula dengan nama authornya. Saling menghargai yaa dan please, dont keep silent!!πŸ˜„

***

Taeyeon dan Tiffany berjalan beriringan disepanjang jalan. Saat itu tak ada perbincangan yang terjadi diantara mereka dan memang pada dasarnya kedua gadis itu selalu diam saat mereka bersama.

Well, sesungguhnya yang bisa Taeyeon dengar hanyalah keheningan, tetapi keheningan yang terjadi tidak seperti yang dibayangkan. Keheningan ini justru membuat Taeyeon nyaman.

Kemudian, Taeyeon merasakan sebuah sentuhan lembut dikulitnya dan dia menatap Tiffany. setelah mendapatkan perhatian Taeyeon, Tiffany menunjuk ke arah kedai ice cream. Taeyeon mengangguk, ia tahu maksud Tiffany seiring berjalan mengikuti Tiffany dengan kedua tangan mereka yang masih saling bertautan.

Ketika mereka sudah sampai di kedai ice cream, Tiffany memesan ice cream rasa vanilla sama halnya dengan Taeyeon.

β€œ 2 dollars, please β€œ ujar pria dihadapan mereka. Taeyeon melepaskan tangan Tiffany lalu mengambil uangnya dari saku dan memberikannya pada orang itu. Tiffany tersenyum manis seiring mereka melanjutkan langkahnya sambil menikmati ice cream tersebut.

Tiffany menoleh ke arah Taeyeon dan terkekeh saat ia menyadari ada sisa ice cream dipipi Taeyeon. Taeyeon membalas tatapan Tiffany dan kebingungan. Tiffany menunjuk ke arah dimana noda ice cream itu dan Taeyeon mencoba untuk menghapusnya tetapi tak bisa sehingga Tiffany membantu menghapus sisa ice cream itu dengan ibu jarinya.

Wajah Taeyeon dan Tiffany begitu dekat, keduanya menyadari hal itu sehingga buru-buru mereka menjauhkan wajah mereka satu sama lain. Blushing dan gugup. Lalu, mereka memutuskan untuk beristirahat sesaat disamping cafe dengan duduk dikursi yang tersedia. Tiffany menatap Taeyeon, sebaliknya Taeyeon menatap Tiffany.

β€œ Apa kau terlahir seperti β€˜ini’? β€œ tanya Tiffany

Taeyeon menggelengkan kepala, β€œ Ani. Aku mengalami kecelakaan saat berumur 13 tahun β€œ

β€œ Oh β€œ ujar Tiffany, keheningan pun mulai menyeruak diantara mereka.

Setelah tak ada satupun yang berani memulai perbincangan lagi, Tiffany melambaikan tangannya didepan wajah Taeyeon mencoba menarik perhatian gadis itu lagi.

β€œ Mengapa kau tidak membeli alat pendengar? ” tanya Tiffany

β€œ Ah.. keluargaku tidak memiliki banyak uang untuk membeli itu β€œ jawab Taeyeon membuat Tiffany berpikir sesaat sambil tetap menatap Taeyeon. Tiba-tiba senyuman manis terlukis diwajah Tiffany.

β€œ Apa? β€œ tanya Taeyeon

β€œ Izinkan aku untuk membelikannya satu untukmu β€œ

β€œ Tunggu! Katakan sekali lagi β€œ pinta Taeyeon dengan kedua mata yang membesar, tak percaya dengan apa yang Tiffany katakan.

Tiffany terkekeh, β€œ Aku akan membelikanmu alat pendengar β€œ. Taeyeon menggelengkan kepalanya.

β€œ Membeli alat pendengar membutuhkan uang yang banyak, aku tak bisa membiarkanmu membeli itu β€œ

β€œ Taeyeon, uang bukanlah permasalahan yang besar untukku dan aku ingin melakukan ini untukmu β€œ jelas Tiffany dengan baik

β€œ Tapi kau tidak mengenalku, aku orang asing β€œ jawab Taeyeon

β€œ Aku akan mengetahui tentang dirimu. β€œ

Taeyeon membuang nafas pelan, β€œ Aku tak ingin mengambil uangmu β€œ

Tiffany menatap Taeyeon, β€œ Taeyeon-ah, lihat, jika kau tidak mengambil uangku itu sangat disayangkan sekali, kenapa kau tidak bekerja untuk uangmu padaku? β€œ

Taeyeon menaikkan kedua alisnya, β€œ Maksudmu, aku bekerja padamu? β€œ

Tiffany mengangguk, sementara Taeyeon tersenyum. β€œ Geurae β€œ

β€œ Tetapi pertama-tama, kau harus memiliki alat pendengar β€œ ujar Tiffany membuat senyuman Taeyeon perlahan menghilang, Tiffany mulai khawatir dengan perubahan ekspresi Taeyeon hingga ia menggigit bibirnya.

β€œ Geurae! Kajja! Aku akan memberitahu omma untuk bertemu dengan kita di rumah sakit β€œ

.

.

At Hospital

Mrs. Kim bertemu dengan kedua gadis itu. ia menghadap pada Tiffany, β€œ Kau tahu, kau tidak perlu melakukan hal ini? β€œ

Tiffany mengangguk dan tersenyum manis, β€œ Aku tahu, tetapi aku ingin melakukannya β€œ

Tak lama kemudian, seorang dokter datang menghampiri mereka, β€œ Anyyeonghaseyo, aku disini untuk memeriksa Taeyeon agar ia bisa mendapatkan alat pendengarnya. Silahkan ikut bersamaku β€œ.

Mereka berjalan mengikuti dokter yang berjalan dihadapan mereka, memasuki sebuah ruangan dimana dokter membawa Taeyeon untuk duduk dikursi yang tersedia dekat dengan dokter.

β€œ Okay, kita akan segera mendapatkan alat pendengarnya. Ini akan membutuhkan waktu beberapa menit untuk menyesuaikannya β€œ jelas Taeyeon yang kemudian meninggalkan ruangan.

 

 

Dokter kembali dengan alat kecil ditangannya.

Alat pendengar.

Dia berjalan menghampiri Taeyeon dan menempatkan alat itu dibelakang daun telinga Taeyeon, tetapi belum dialih fungsikan.

Taeyeon pov

Gugup.

Degup jantungku tak lagi seirama, aku tak bisa menggambarkan hal yang lebih lagi tentang perasaan ini. Bagiku bisa mendapatkan alat pendengar pun sudah menjadi sebuah keajaiban, apalagi bisa mendengar lagi.

Kurasakan sebuah benda kecil tertempel dibelakang telingaku. Dokter mengatakan sesuatu seiring kudengar sesuatu yang masih samar dikedua telingaku selama beberapa menit.

Aku mendengar sesuatu!

β€œ Taeyeon? β€œ

Aku mendengar itu. AKU MENDENGAR ITU!

Itu adalah suara omma. Aku mengangkat kedua tanganku didepan mulut untuk menahan rasa haru karna ini semua.

Aku melihat kedua mata omma berkaca-kaca seiring aku mengangguk untuk merespon pertanyaan yang diberikan Taeyeon. Setelah menjawab pertanyaan itu, aku menatap ke arah Tiffany yang tersenyum lebar.

β€œ Goma..wo β€œ ucapku terbata-bata. Sesaat aku terkejut karna suaraku yang sudah berubah beberapa tahun ini. Suaraku tidak terdengar seperti anak berumur 13 tahun lagi dan untuk pertama kalinya, aku mendengar Tiffany berbicara.

β€œ Tak masalah, Taeyeon β€œ ucapnya. Suaranya begitu husky, itu sangat manis dan berhasil membuat hatiku berbunga. Aku tersenyum manis padanya.

Setelah urusan di rumah sakit telah selesai, kami meninggalkan rumah sakit dan aku mendengarkan semuanya.

Aku mendengar suara burung bernyanyi, mendengar bagaimana suara mesin mobil disepanjang jalan, bunyi klakson disana dan disini.

Aku tersenyum lebar. Aku bisa mendengar lagi.

β€œ Taeyeon-ah, mianhae, kau tau bahwa aku harus bekerja agar kita bisa mendapatkan uang tambahan β€œ ungkap Mrs. Kim sambil memeluk Taeyeon.

Taeyeon mengangguk, β€œ Gwenchana, omma. Aku ingin berkeliling kota sejenak β€œ. Mrs. Kim melepaskan pelukannya.

β€œ Hati-hati, okay? Jangan karna kau bisa mendengar lagi kau melupakan keselamatanmu β€œ

Tiffany yang memperhatikan adegan kedua orang itu dibelakang mereka, perlahan melangkahkan kakinya menghampiri mereka.

β€œ Aku akan pergi bersamanya β€œ ujar Tiffany

Mrs. Kim tersenyum lebar, β€œ Jeongmal?? Ahh.. terimakasih, Tiffany! β€œ.

Mrs. Kim segera pergi dari sana, meninggalkan Tiffany dan Taeyeon. Mereka berjalan disepanjang jalan sambil Taeyeon mendengarkan semua suara yang ditangkap oleh kedua telinganya.

Dia mendengar suara beberapa mobil. Dia mendengar orang-orang berbicara disepanjang jalan. Bagaimana ia sangat merindukan hal ini. Taeyeon merindukan masa-masa ia bisa mendengar dan sekarang ia bisa mendengar lagi.

Terimakasih pada Tiffany.

Taeyeon merasakan seseorang menepuknya. Lalu, ia menoleh pada Tiffany yang juga menatap ke arahnya β€œ Ah, mianhae. Kebiasaan yang mulai sekarang sulit kuhilangkan β€œ ungkap Tiffany yang menjelaskan bahwa sekalipun Taeyeon sudah bisa mendengar, kebiasaan ia menepuk Taeyeon untuk mendapat perhatiannya tak bisa dihentikan.

Hal itu membuat Taeyeon tertawa lembut, β€œ Gwenchana, aku memahaminya. Jadi, ada apa? β€œ.

Tiffany tersenyum, β€œ Apa yang ingin kau lakukan? β€œ tanya Tiffany.

Taeyeon memandang ke sekeliling dan mengangkat kedua bahunya, β€œ Aku tidak–.. β€œ. Taeyeon menghentikan langkahnya saat ia melihat sebuah taman yang berada tak jauh darinya. Taeyeon menunjuk ke arah taman, β€œ Aku ingin kesana β€œ

Tiffany tersenyum. Lagi. Lalu, mengangguk seiring menggenggam tangan Taeyeon membuat Taeyeon terkejut. Tiffany berlari ke taman sambil membawa Taeyeon yang ikut berlari dibelakangnya tanpa melepaskan tautan tangan mereka.

Setelah masuk ke area taman, mereka mulai berjalan perlahan, menikmati udara sejuk dan taman yang indah. Kedua gadis itu bahkan lupa bahwa tangan mereka masih saling bertautan, seiring tanpa sadar bahwa keduanya merasakan kenyamanan.

β€œ Taeyeon? ”

β€œ Hmm? β€œ

β€œ Ceritakan tentang dirimu β€œ. Taeyeon berpikir, apa saja yang harus ia katakan.

β€œ Tak banyak yang bisa kuceritakan β€œ ungkap Taeyeon

β€œ Meskipun begitu, setiap orang berbeda β€œ ujar Tiffany

Taeyeon menghela nafas, β€œ Namaku Kim Taeyeon, ketika aku berumur 13 tahun, aku mengalami kecelakaan mobil dan efek dari kecelakaan itu aku menjadi tuli β€œ

Tiffany menggelengkan kepalanya, β€œ Aku sudah tahu soal itu, ceritakan sesuatu yang berbeda β€œ

Taeyeon kembali menghela nafas dan siap memulai lagi, β€œNamaku Kim Taeyeon, ketika aku berumur 13 tahun, aku mengalami kecelakaan mobil dan efek dari kecelakaan itu aku menjadi tuli. Aku suka warna biru, aku memiliki omma yang pekerja keras dan aku memiliki sahabat bernama Yuri β€œ

Tiffany tersenyum puas, β€œ Bagus β€œ

Mereka kembali berjalan beriringan dalam keheningan, tangan mereka masih saling menggenggam satu sama lain sambil keduanya mendengarkan suara burung bernyanyi. Taeyeon merasakan bahwa tubuh Tiffany bergetar saat angin menerpa tubuh mereka.

Ia menatap ke arah Tiffany dan melihat bahwa Tiffany hanya mengenakan pakaian tipis. Taeyeon melepaskan genggaman tangan mereka dan mulai melepaskan sweaternya namun aksinya ditahan oleh sentuha lembut dilengannya.

β€œ Andwe, nan gwenchana β€œ ujar Tiffany

Taeyeon menggelengkan kepalanya, β€œ Bagaimana jika kau terserang flu? β€œ

Tiffany masih memegang lengan Taeyeon, β€œ Aku baik-baik saja β€œ. Taeyeon menghela nafas dan kembali menggunakan sweaternya.

Tiffany mulai menyesal karna telah menolak sweater Taeyeon sejak udara itu semakin terasa dingin ditubuhnya. Didalam pikiran Taeyeon, ia berdebat dengan apa yang harus ia lakukan. Tetapi setelah melihat lagi bahwa tubuh Tiffany bergetar untuk kelima kalinya, ia memutuskan untuk menarik tubuh Tiffany ke dalam dekapannya. Mencoba untuk menyalurkan kehangatan tubuhnya pada tubuh Tiffany.

β€œ Kau akan terserang flu β€œ ungkap Taeyeon dengan suara yang lembut

Tiffany tidak mengatakan apapun karna gadis itu tidak ingin hatinya semakin tak karuan atas kedekatan mereka yang begitu dekat. Ia hanya menganggukkan kepala sebagai responnya pada Taeyeon.

Kenapa perasaan dia seperti ini?

 

 

Tiffany dan Taeyeon berdiri diluar rumah Taeyeon setelah Tiffany mengantarkan gadis itu.

β€œ Hari ini sangat menyenangkan, Taeyeon β€œ. Tiffany tersenyum dan Taeyeon membalas senyumannya dengan sangat manis.

Taeyeon baru saja akan membalikkan tubuhnya untuk masuk ke dalam rumah. Kemudian, tiba-tiba Taeyeon kembali membalikkan tubuhnya dan memeluk Tiffany erat.

β€œ Gomawo. Terimakasih untuk segalanya. Sekarang, aku bisa mendengar lagi. Terimakasih, Tiffany β€œ ucap Taeyeon sambil terus memeluk Tiffany

Tiffany yang terkejut dengan apa yang ia dapatkan hanya bisa terdiam dan tak dapat berucap apapun kecuali membalas pelukan Taeyeon padanya. Dan jantungnya mulai berdegup kencang dari biasanya. Tiffany menggigit bibirnya, takut bahwa Taeyeon mendengar suara jantungnya yang seolah ingin keluar dari tempatnya.

Tak lama kemudian, dua gadis itu melepaskan pelukan mereka dan Tiffany melihat dari kedua mata Taeyeon mengalir butiran krystal disana. Dengan menggunakan ibu jarinya, Tiffany dengan berani menghapus air mata itu. Tiffany tersenyum dan menyentil hidung Taeyeon pelan.

β€œ Cute β€œ

Pipi Taeyeon merona sebelum ia mengalihkan pandangannya ke arah lain, namun sulit melihat bahwa Tiffany menangkupkan kedua tangan diwajahnya.

β€œ Apa kau akan pergi ke sekolah besok? β€œ tanya Tiffany

Taeyeon mengangguk.

Tiffany tersenyum, β€œ Bagus, aku akan menjemputmu pukul 7 pagi. Jangan terlambat! β€œ

Tiffany berjalan menjauh, masuk ke dalam mobil dan mengendarainya.

Taeyeon tersenyum dan menggelengkan kepalanya sebelum ia masuk ke dalam rumah.

***

At school

Taeyeon sudah mendapatkan alat pendengar dan menyalakannya.

Tiffany dan Taeyeon mengambil tas mereka dan keluar dari mobil. Bisikkan dari orang-orang dapat terdengar saat mereka masuk ke sekolah.

β€œ Kim Taeyeon, tolong datang ke kantor. Kim Taeyeon β€œ perintah seseorang dari speaker pengumuman.

Taeyeon mendengus sebelum ia berpisah dengan Tiffany, lalu gadis itu berjalan masuk ke dalam kantor kepala sekolah.

β€œ Jadi kau benar-benar tuli, huh? β€œ tanyanya

Taeyeon mengangguk, β€œ Tetapi sekarang aku sudah memiliki alat pendengar β€œ

Kepala sekolah menghela nafas, β€œ Aku minta maaf tentang bagaimana aku memperlakukanmu. Kau tidak perlu menjalankan hukuman lagi β€œ

Taeyeon mengangguk dan beranjak dari kursi, β€œ Tak apa, aku baik-baik saja β€œ

Taeyeon mulai berjalan menuju kelas seiring mendengar suara bisikkan tentangnya terdengar disepanjang jalan. Saat ini, Taeyeon dapat mendengar semua suara bisikkan itu dan dia tidak menginginkannya. Dia ingin tidak dapat bisa mendengar sesaat.

Sekuat tenaga Taeyeon mengabaikan semua rumors disekelilingnya sampai ia masuk ke dalam kelas dan duduk bersama Tiffany.

β€œ Ada apa? β€œ tanya Tiffany

Taeyeon tersenyum, β€œ Nothing much, kepala sekolah meminta maaf padaku β€œ

β€œ Itu bagus β€œ ungkap Tiffany sebelum kelas dimulai.

β€˜Apa itu sangat baik? Bagaimana orang-orang akan memperlakukanku ketika tahu aku tidak bisa mendengar, meskipun aku sudah memiliki alat pendengar sekarang?’

β€œ Taeyeon, kemarilah, duduk didepan sehingga kau bisa melihat dan mendengar dengan jelas β€œ ujar guru

Taeyeon menatap Tiffany dengan dahi mengerut, lalu menatap ke arah guru.

β€œ Kenapa? β€œ tanyanya

β€œ Kau tidak bisa mendengar, bukankah begitu? β€œ tanyanya dengan suara yang sedikit keras, mencoba mencari perhatian dari para siswa lain.

β€œ Aku sudah memiliki alat pendengar β€œ jawab Taeyeon, masih tidak beranjak dari bangkunya disamping Tiffany.

β€œ Tak ada alasan, kau akan duduk didepan, kau tidak bisa mendengar β€œ ujar sang guru dengan penuh penekanan.

Aneh, mengganggu. Taeyeon mengepalkan kedua tangan yang tersembunyi dibawah meja, masih duduk dikursinya.

Tiffany menatap ke arah Taeyeon dengan khawatir.

β€œ Tae, dengarkan dia β€œ ucap Tiffany lembut.

Emosi Taeyeon perlahan mereda setelah mendengar Tiffany memanggilnya, tetapi tetap saja rasa kesal pada guru masih berada diubun-ubun kepalanya.

β€œ Taeyeon, berdiri dan duduk disini atau aku akan mengirimmu ke luar kelas β€œ

Speechlesh. Taeyeon kalah.

Dia beranjak dan memukul meja.

β€œ Dont you think you are too late to make any changges? Aku sudah tidak bisa mendengar saat pertama kali aku masuk ke sekolah ini, tetapi tak ada satu pun orang yang menyadarinya. Tak ada yang menyadarinya, sampai SETELAH aku memiliki ALAT PENDENGAR. Jadi lakukanlah, bawa aku keluar kelas karna membangkang perintahmu β€œ ujar Taeyeon

Sang guru tercengang.

Taeyeon mengangkap kedua alisnya, hal itu membuat sang guru tersadar lalu menunjuk ke arah pintu. Taeyeon tahu apa maksud gurunya itu.

Taeyeon mulai membereskan barang-barangnya, sementara ia menatap ke arah Tiffany. Taeyeon melangkahkan kakinya tanpa suara.

β€œ Gadis itu perlu belajar etika β€œ ujar sang guru dengan suara yang keras membuat para siswa tertawa

Tiffany sudah cukup.

Tiffany berdiri membuat semua orang menatap ke arahnya.

β€œ DIA butuh belajar ETIKA? Lalu, bagaimana kalian bisa belajar etika? Mengapa kalian menertawakannya? Apakah tidak bisa mendengar adalah suatu hal yang sangat lucu?? Tidak bisa mendengar apakah suatu HIBURAN bagimu?? You all make me sick! β€œ ungkap Tiffany.

Semua siswa menatapnya dalam hening, termasuk sang guru. Tiffany menghela nafas dan membawa barang-barangnya sebelum ia melangkahkan kaki keluar kelas untuk Taeyeon.

Tiffany terkejut karna Taeyeon berada diluar. Taeyeon menghampiri Tiffany dan menjatuhkan barang-barangnya sama halnya dengan Tiffany.

Tiffany menatap Taeyeon bingung, lalu ia merasakan dekapan hangat. Menghirup harum tubuhnya lewat ceruk leher Tiffany.

Taeyeon memeluk Tiffany, menyembunyikan wajahnya dileher Tiffany.

Terkejut. Tiffany terkejut dengan pelukan Taeyeon dan mencoba melonggarkan sedikit pelukan mereka untuk melihat Taeyeon.

β€œ Terimakasih. Lagi β€œ ucap Taeyeon

Tiffany mengangguk dan membalas pelukan Taeyeon.

β€œ Aku benar-benar berterimakasih padamu β€œ bisik Taeyeon

 

 

 

Taeyeon dan Tiffany pergi ke taman yang mereka datangi kemarin. Duduk dikursi dengan tas mereka, tiffany menyimpan kepalanya dibahu Taeyeon.

Mereka menikmati keheningan yang menyeruak diantara mereka, menikmati kebersamaan itu sambil melihat orang-orang yang berjalan cepat dihadapan mereka dan mendengar suara burung bernyanyi dengan ceria.

Mereka begitu sangat dekat. Tiffany melihat tangannya begitu dekat dengan tangan milik Taeyeon. Ia menggigit bibirnya kuat sebelum menggenggam tangan Taeyeon erat dan menguncinya.

Taeyeon menatap tangan mereka, terkejut dan melihat betapa meronanya kedua pipi Tiffany. setelah beberape menit, Taeyeon tersenyum pada Tiffany dan balas menggenggam tangan Tiffany.

Tiffany tersenyum dengan moment ini dan mereka mulai kembali pada posisi semula, tetapi kali ini mereka masih saling berpegangan.

β€œ Taeyeon-ah β€œ panggil Tiffany lembut

β€œ Hmm? β€œ

β€œ Ceritakan tentang keluargamu β€œ ucap Tiffany seiring melihat dedaunan yang gugur dan mendarat dijalanan pejalan kaki.

β€œ Baiklah, well, aku hanya tinggal bersama omma β€œ. Tiffany mengangguk sebagai respon bahwa ia mendengarkan Taeyeon.

β€œ Dimana yang lain? β€œ tanya Tiffany penasaran

Taeyeon menghela nafas, ia menunjuk ke langit yang mana hari itu cuaca begitu cerah. Awan putih dan langit biru.

Tiffany terkejut atas jawaban Taeyeon, ia menatap kedua mata Taeyeon yang sudah berair.

β€œ Taeyeon β€œ panggil Tiffany lirih seiring melihat air mata itu mengalir dari pelupuk mata Taeyeon.

Tiffany menangkupkan kedua tangan diwajah Taeyeon dan menghapus air matanya sebelum menarik tubuh Taeyeon untuk masuk ke dalam dekapannya. Memeluknya erat, mencoba untuk menenangkan Taeyeon dengan mengelus punggung Taeyeon lembut.

β€œ Hanya aku yang bertahan saat kecelakaan itu terjadi β€œ ucap Taeyeon lirih diantara isak tangisnya

Tiffany tak bicara. Ia hanya terus mendengarkan Taeyeon berbicara tanpa berniat menghentikan belaian lembut dipunggung Taeyeon.

β€œ Saudara perempuanku.. adik perempuanku.. β€œ. Taeyeon tidak melanjutkan kata-katanya, ia semakin menenggelamkan wajahnya dibahu Tiffany, menangis.

Tiffany merasakan pakaiannya basah, tetapi ia tak peduli.

Tiffany melihat bagaimana tatapan orang-orang yang melewati mereka, tetapi ia tak peduli. Lagi.

Semua perhatiannya saat ini hanya akan Tiffany berikan untuk Taeyeon.

Tiffany mencoba melepaskan pelukannya untuk menatap Taeyeon, tetapi gadis mungil itu semakin memeluknya erat. Tak ingin mengakhiri pelukan hangat Tiffany.

Setelah beberapa menit berlalu dalam keheningan dan pelukan, kedua gadis itu menyudahi pelukannya.

Tiffanny menatap dalam kedua mata Taeyeon, tetapi kedua mata Taeyeon tidak ingin bertemu dengan mata Tiffany. Tiffany menangkupkan kedua tangannya diwajah Taeyeon. Lagi. Membuat Taeyeon melihat ke arahnya.

Tiffany melihat bagaimana sedihnya Taeyeon, berharap dan kesepiannya Taeyeon dan itu membuat hatinya sakit. Sementara itu, Taeyeon yang melihat bahwa ia dan Tiffany begitu dekat merasa kesulitan untuk bernafas dan menelan ludahnya sendiri.

Dengan menggunakan ibu jarinya, Tiffany menghapus sisa air mata sebelum ia mengelus pipi Taeyeon dengan lembut. Tiffany tersenyum pada Taeyeon dan Taeyeon tersenyum pada Tiffany.

β€œ Jangan khawatir Tae, mereka selalu mengawasimu, mereka akan selalu ada bersamamu, sama halnya denganku β€œ

To get more privacy, kedua gadis itu memutuskan untuk pergi ke rumah Tiffany dan menghabiskan waktu bersama didalam sebuah ruangan, merebahkan tubuh mereka di atas ranjang secara berdampingan.

Kedua gadis itu kebingungan, mereka seolah kehabisan akal tentag apa yang harus mereka lakukan.

β€œ Lalu, bagaimana dengan keluargamu? β€œ tanya Taeyeon tiba-tiba tanpa berniat berubah posisinya.

β€œ Aku hidup bersama daddy, serta banyak pelayan dan chefs β€œ jawab Tiffany datar

β€œ Hanya daddy? β€œ tanya Taeyeon

Tiffany mengangguk, β€œ Ommaku.. meninggal karena mengalami kecelakaan mobil β€œ

β€œ Kapan? β€œ

β€œ Ketika aku baru masuk sekolah menengah atas β€œ

β€˜Hmm, itu sama seperti saat aku mengalami kecelakaan’

Mendadak Taeyeon malah memikirkan hal bodoh dikepalanya.

Taeyeon tidak melihat apapun sampai Tiffany membawa tangan Taeyeon untuk menghapus air mata Tiffany. Tiffany membalikkan tubuhnya, tetapi tidak menghadap ke arah Taeyeon. Tiffany memperlihatkan punggungnya ke arah Taeyeon, tidak ingin Taeyeon melihat bahwa ia menangis.

Untuk suatu alasan, air mata itu tak henti-hentinya mengalir dari pelupuk mata Tiffany padahal Tiffany sudah sekuat tenaga untuk menahan dan menghapusnya dengan cepat. Dibelakang Tiffany, Taeyeon menyadari apa yang harus ia lakukan sehingga gadis mungil itu langsung memeluk Tiffany. Memberikan dekapan hangat dari belakang membuat Tiffany terkejut dengan perlakuan tiba-tiba yang ia dapatkan dari Taeyeon.

Taeyeon menarik tubuh Tiffany untuk masuk ke dalam dekapannya. Taeyeon menenggelamkan wajahnya diceruk leher belakang Tiffany.

β€œ Uljima, menangis tidak cocok untukmu β€œ ujar Taeyeon

Tiffany terisak dan menganggukkan kepala pelan, lalu Taeyeon semakin erat memeluk Tiffany. Mereka menikmati keheningan ini.

β€œ Tiffany? β€œ panggil Taeyeon

β€œ Ne? β€œ

β€œ Pernahkah kau merasakan jatuh cinta? β€œ tanya Taeyeon

Tiffany terkejut dengan apa yang dikatakan Taeyeon sehingga gadis itu tak mengucapkan apapun.

β€œPernahkah kau? β€œ tanya Taeyeon sekali lagi

Tiffany berfikir tentang itu, pernahkah ia jatuh cinta?

β€œ Ne β€œ jawab Tiffany

β€œ Bagaimana rasanya? β€œ tanya Taeyeon, mencoba menganalisa jika yang ia rasakan pada Tiffany hanyalah perasaan sayang terhadap sahabat atau cinta

Tiffany berfikir sebelum menjawab pertanyaan Taeyeon, β€œ Degup jantungmu akan berdegup kencang dari biasanya dimana pun kau berada untuk memikirkannya. Kau tersenyum saat kau melihatnya. Kau akan melakukan apapun untuk mereka asal mereka bahagia, jika mereka sedih, kau akan sedih. Kau akan mudah merasa cemburu dan itu akan terasa sangat menyakitkan jika mereka meninggalkanmu β€œ jelas Tiffany panjang lebar seiring ia mengingat semua tentang cinta dimasa lalunya, termasuk yang satu ini.

Taeyeon mendengar dengan seksama ucapan Tiffany seiring didalam benaknya ia juga menggambarkan apa yang ia rasakan pada Tiffany. Betapa terkejutnya Taeyeon saat menyadari bahwa ucapan Tiffany sama seperti apa yang ia rasakan untuk gadis itu.

Taeyeon sudah jatuh cinta pada Tiffany.

.

.

Taeyeon pov

β€œ Omma, siapa saja yang tidak selamat dari kecelakaan mobil tempo lalu? β€œ. Aku bertanya padanya saat kami duduk dikursi makan.

Omma menatapku, terlihat terkejut, semua ini terjadi karna sebelumnya aku tidak pernah membicarakan hal ini dengannya.

Ia menghela nafas, β€œ Ada satu orang yang meninggal dikendaraan lain saat kecelakaan terjadi β€œ

β€œ Siapa? β€œ. Aku bertanya karna sangat penasaran

β€œ Miyoung Hwang β€œ.

Aku tercenang dan omma melihat ke arahku. Aku berlari keruanganku dan mengambil ponsel.

Siapa nama ibumu? . Aku mengirim pesan tingkat pada Tiffany

Miyoung Hwang, kenapa? .

Tanpa sadar, aku menjatuhkan ponselku begitu balasan pesan singkat dari Tiffany aku baca.

Omma Tiffany sudah membunuh keluargaku. Dia membunuh appa, dongsaengku.

Aku mengepalkan kedua tangan dengan kemarahan yang membara dalam diriku.

TBC

Author notes:

Thanks for information that the author named is InfinityPenguins and i allowed by the author. Yeaa!! Thanks yaa.. Thanks also for the Readers who gave me information a week ago about the author. See you soon, maybe one more chapter again be the ending this story. Stay healthy!

Ahh.. for West Javana and One Night, be patient, please.

62 comments

  1. Eiy~ adalah tidak mungkin sad endingkan? Andwe, setelah apa yang mereka jalani kenapa harus eomma fany yg tae tuduh, mungkin itu ketidak sengajaan, adalah tae~

  2. eeeng iengeeng
    kirain bakalan mulus jln cinta TaeNy, nyata nya begitu, bklan rumit dah nie…
    sebaik nya taeng tau yg mn yg hrus di pentingkan Cinta/Ego nya…
    Lanjut…..

  3. Duh dek bru ngrasain cinta skrang taeng gantian ngrasakin benci ke ppany plis lah taeng jgn sprti itu pa lg momy nya ppany kan jg ikut mninggal msak kamu jd dendam ke ppany T.T

  4. TRnyata tak berjalan muluss mslh bsar pn mulai menghampiri,,akankah taeng melepaskan rasanya untuk fany??andwaeeeπŸ˜₯

  5. wahhh fany baik bgt, taeny udh ada rasa satu sama lain nih. tp gmn itu kok bisa omma nya fany yg ngebunuh keluarga tae?

  6. Lagi lagi harus cengo dgn keadaan tae.. giliran tae dgn beraninya, menyebutkan tuli” keadaan fisiknya, mrk smua hanya menggap bohong blka n hanya sebuah lelucon yg dibuat pd bulan April.. lalu stelah tae membuktikan dgn alat bantu semua memandang kasihan.. Terus disinie yg gak punya Etika siapa,? Dosen yg terhormat atau tae yg tiap minggung nya dpet pembulian dr kalian n hanya pany mempunyai hati tulus buat tae.. yg dipandang remeh oleh manusia tak punya otak!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s