One Night [8]

Author: F

Note : cerita ini bergenre Gender Bender. Ini hanya untuk hiburan semata, bagi yang tidak menyukainya tinggalkan ff ini. Dan diharapkan jika ingin copy paste, sertai pula dengan nama authornya. Saling menghargai yaa dan please, dont keep silent!!πŸ˜„

***

Taeyeon berlari disepanjang koridor rumah sakit, mengerahkan seluruh tenaganya untuk dapat segera sampai diruang dokter. Pikirannya saat ini begitu berantakan lantaran panik setengah mati dengan keadaan Tiffany, padahal jika ia tidak dikuasai kepanikanβ€”pria itu bisa saja menghubungi dokter dan suster hanya dengan menekan tombol darurat yang terdapat diruang rawat Tiffany. Tetapi nyatanya, kepanikan membuat pria itu tak bisa berpikir dengan baik.

Tak lama kemudian, Taeyeon menghentikan langkahnya. Ia melihat sekelompok orang berjas putih berlari ke arahnya dengan tergesa.

β€œ Kim Taeyeon, apa yang kau lakukan disini?? β€œ tanya salah satu dokter yang menangani operasi Tiffany tempo lalu, sementara yang lainnya berlari melewati Taeyeon bersama beberapa suster dibelakangnya.

β€œ A-aku baru saja akan menghubungi kalian bahwa–.. β€œ

β€œ Kami sudah mengetahuinya, kondisi Tiffany terhubung langsung dengan ruang operator kami β€œ jelas dokter itu, β€œ Sebaiknya kau segera kembali, ayo! β€œ

Taeyeon menganggukkan kepalanya mantap, sebenarnya jauh dilubuk hatinya ia mengumpat soal dirinya sendiri karna baru menyadari bahwa keadaan Tiffany selalu diawasi oleh pihak rumah sakit. Lalu, detik selanjutnya pria itu menyadari sesuatu.

β€˜Oh sial! Aku meninggalkan Tiffany bersama Nickhun!’

Mengingat hal itu, Taeyeon segera menambahkan kecepatan berlarinya. Menyusul dokter yang sebelumnya berlari didepannya lebih dulu.

.

.

Sebuah mobil mewah berwarna putih berhenti didepan loby rumah sakit terbesar di Seoul. Seorang supir keluar dari mobil dan membukakan pintu penumpang hingga memperlihatkan seorang wanita paruh baya bersama seorang pria yang senantiasa berada disampingnya. Senyuman manis menghias diwajah mereka, sang pria terlihat sangat tampan sementara wanita paruh baya terlihat anggun dan elegant berjalan disamping pria yang diduga sebagai putranya.

Mereka berjalan masuk lebih dalam, menyusuri koridor rumah sakit sambil bergandengan tangan, β€œ Aku harap Tiffany noona sudah bangun, jika ia melihatmu noona pasti sangat senang β€œ

β€œ Aku harap ia sudah bangun, nak β€œ

β€œ Ne, sebentar lagi kita sampai, omma β€œ

Setelah menempuh beberapa menit dengan berjalan dikoridor rumah sakit, akhirnya selangkah lagi kedua orang itu akan segera sampai didepan kamar Tiffany. Namun, pria disamping wanita paruh baya itu mengerutkan keningnya. Ia melihat pintu kamar Tiffany terbuka lebar.

β€œ Omma, chankman.. tunggulah disini sebentar, hm? β€œ

β€œ Baiklah, Minho-ya β€œ

Minho mendudukkan ibunya dikursi tunggu, lalu ia berjalan memasuki ruang rawat Tiffany. Hingga tak lama kemudian, kedua matanya membesar.

β€œ YAH!! APA YANG KAU LAKUKAN!?? β€œ. Nickhun menoleh ke sumber suara, pria itu terkejut dan otaknya mulai berpikir keras agar aksi pembunuhan berencananya tidak diketahui pria dibelakangnya.

β€œ I-ini, Tiffany tidak bisa bernafas! Tolong bantu aku! Tiffany.. kau mendengarku?? Tiffany bertahanlah!!! β€œ. Nickhun tak lagi menyimpan kedua tangannya dileher Tiffany, ia justru lebih terlihat seolah tengah mengguncang-guncangkan tubuh Tiffany yang mengejang karna tak bisa bernafas hingga Nickhun merasakan kehadiran minho disamping sisi tempat tidur Tiffany yang lain.

β€œ A-apa yang terjadi dengan noona?? β€œ tanya Minho panik sambil terus memandang Tiffany yang perlahan mulai anfal, pria yang lebih muda dari Nickhun itu kebingungan dengan apa yang harus ia lakukan. Tetapi berkat ilmu pengetahuan kedokterannya dengan spontan Minho melakukan pertolongan pertama dengan memompa dada Tiffany.

β€œ Noona bertahanlah!! β€œ ucap Minho sekuat tenaga tanpa menghentikan gerakan tangannya, seiring beberapa dokter masuk ke dalam ruang rawat Tiffany. Bahkan Minho mendengar suara Taeyeon yang memanggil ibu mereka diluar ruangan.

β€œ Minho-ssi β€œ panggil salah seorang dokter yang diduga temannya

β€œ Key tolong bantu aku. Tiffany noona tidak bisa bernafas! β€œ

Dan saat itu juga semua tenaga medis dikerahkan, suasana didalam ruang rawat Tiffany begitu menegangkan diikuti dengan suara detak jantung Tiffany yang mulai melemah. Taeyeon masuk ke dalam ruang rawat Tiffany dengan tergesa dan tak dapat dipungkiri bahwa hatinya terasa sangat sakit melihat keadaan Tiffany yang sangat mengkhawatirkan. Lalu, kedua mata Taeyeon terlihat menyapu seluruh penjuru ruangan. Seolah tengah mencari sesuatu disana.

β€œ Minho-ya! β€œ. Taeyeon menarik Minho dari sekumpulan medis didekat Tiffany

β€œ Ya hyung! Aku sedang–.. β€œ

β€œ Dimana Nickhun!?? β€œ. Minho berhenti memberontak dan memandang wajah kakak laki-lakinya bingung

β€œ Nickhun?? Ohh pria itu–.. β€œ. Minho mencoba menjawab pertanyaan Taeyeon dengan menunjuk seorang pria yang sebelumnya berdiri didekatnya, tetapi rupanya pria yang sebelumnya dilihat Minho mendadak hilang. Pergi entah kemana.

β€œ Ti… dak… ada… hyung. β€œ Jawab Minho pelan. Taeyeon mendesis, kedua tangannya mengepal kuat. Sungguh, jika sesuatu yang tak pernah ia inginkan terjadi pada Tiffanyβ€”ia akan menyalahkan dirinya sendiri karna telah ceroboh meninggalkan gadis yang dicintainya dengan orang yang telah ia curigai. β€œ Apa sesuatu terjadi? β€œ Tanya Minho penasaran

β€œ Minho-ya, tolong–… β€œ

β€œ Pasien kehilangan kesadaran, dokter!! β€œ. Baik Taeyeon maupun Minho, kedua pria itu menoleh ke sumber suara. Mereka melihat rekaman detak jantung Tiffany yang perlahan bergerak membentuk garis lurus, hingga rasanya tubuh Taeyeon mendadak melemas dan hampir jatuh jika Minho tidak segera menangkap tubuh kakak laki-lakinya.

β€œ Andwe, andwe!! Tiffany TIDAK BOLEH MENINGGALKANKU, ANDWEE!! β€œ

.

.

Nickhun menutupi sebagian wajahnya dengan sapu tangan, pria itu berjalan diantara pilar-pilar disepanjang koridor rumah sakit dengan tergesa. Keadaan dirumah sakit yang begitu sepi itu memberikan keuntungan bagi Nickhun sehingga ia bisa lolos dari perhatian banyak orang diruang rawat Tiffany.

Sesekali pria itu berdecak kesal karna aksi membunuh Tiffany harus tertunda lantaran kehadiran Minho saat itu, lalu pria itu merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel. Ditekankanlah beberapa nomor disana dan pria itu langsung melakukan panggilan pada orang diseberang sana.

β€œ Kau dimana? β€œ

β€œ … β€œ

β€œ Temui aku di Han-gang β€œ

β€œ … β€œ

Klik!

 

 

Nickhun menghentikan laju kendaraannya ditepi sungai Han-gang yang begitu sunyi, matanya terlihat awas memeriksa lingkungan disekitarnya. Takut-takut seseorang mengikutinya, lalu tak lama kemudian dirinya terlonjak kaget karna mendengar suara ketukan keras dikaca mobilnya. Tipikal orang yang mempunyai dosa, hidupnya akan menjadi tidak tenang dan seperti itulah sosok Nickhun saat ini.

Keringat dingin mengalir deras diseluruh tubuhnya, bahkan cuaca dingin di Korea mendadak bagaikan musim panas bagi Nickhun. Ketukan pada kaca mobilnya kembali terdengar dan kali ini Nickhun membuang nafas lega karna sosok yang mengetuk kaca mobilnya adalah sosok yang menjadi tujuannya saat ini, lalu ia segera membuka pintu mobilnya untuk keluar dari sana.

β€œ Ada apa kau menghubungiku? β€œ tanyanya seiring melemparkan sebuah minuman kaleng ke arah Nickhun dan dengan cepat, Nickhun menangkapnya.

β€œ Mengapa kau tidak membuat gadis itu mati saja saat itu? β€œ tanya Nickhun terus terang dengan intonasi yang begitu serius, berbeda dengan sosok dihadapannya yang terlihat santai sambil memandang lurus jauh ke depan dan sesekali meneguk minumannya.

β€œ Sudah mendengar kabar gadis itu yang sekarat juga sudah menjadi keberuntunganmu, bukan? β€œ. Nickhun menyernyitkan keningnya tak mengerti.

β€œ Apa maksudmu? β€œ

β€œ Aku tidak perlu melakukan perintahmu untuk menyelakai gadis itu, nyatanya sebelum aku beraksi, gadis itu sudah seperti itu β€œ. Sosok itu menyeringai lebar, β€œ Sungguh, drama kalian sangat menarik β€œ ucapnya sambil memandang ke arah Nickhun dengan seringaiannya.

β€œ Sekarang mana bayaran untukku?? β€œ. Ucap sosok itu sambil membuka telapak tangannya dihadapan Nickhun. Kali ini, giliran Nickhun yang tertawa. β€œ Wae? Apa ada yang lucu? Ahh.. matta, aku memang sangat lucu β€œ ucap sosok itu dengan percaya diri

β€œ Yah, Lee Soonkyu. Apa kau baru saja bercanda denganku??? β€œ. Nickhun menarik kerah pakaian sosok itu dengan sekuat tenaga

β€œ Ha! Apa semuanya tidak terlihat jelas dari kedua mataku? Aku tak berbohong jika bukan aku yang membuat gadis itu celaka! β€œ. Lee Soonkyu melepaskan kedua tangan Nickhun dari kerah pakaiannya, lalu menyeringai lebar. β€œ Cepat berikan bayaranku! β€œ

β€œ Aku tidak akan membayarmu karna memang kau tidak melakukan perintahku! β€œ

β€œ Mwo?? Apa kau tidak takut bahwa aku memiliki bukti yang kuat, jika kau merencanakan pembunuhan untuk gadis itu. Hmm.. siapa namanya, Tiff.. Ahh.. Tiffany Hwang. Matta! β€œ

β€œ Shit! Kau mengancamku! β€œ. Nickhun mendengus kesal seiring mengambil satu amplop berwarna coklat dari balik jasnya, lalu dengan terpaksa pria itu memberikan seluruh isi dalam amplop itu pada Lee Soonkyu.

β€œ Nah, begini kan lebih baik. Aku akan menutup mulutku rapat-rapat, termasuk soal perintahmu yang mewajibkanku untuk meneror gadis itu. Senang bekerja denganmu β€œ. Lee Soonkyu membalikkan tubuhnya, mulai berjalan menjauh meninggalkan sosok Nickhun yang masih sibuk dengan pemikirannya.

β€œ Yah, Lee Soonkyu!! Jika bukan kau yang mencelakainya, lalu siapa??? β€œ tanya Nickhun yang sedikit berteriak agar Lee Soonkyu dapat mendengar suaranya

β€œ Mollayo! β€œ jawab Lee Soonkyu tanpa menoleh ke arah Nickhun, melainkan melambaikan tangannya sebagai salam perpisahan kepada clientΒ­nya.

.

.

Disebuah padang rumput yang luas, terdengar suara burung bernyanyi. Semilir angin yang berhembus terasa menyejukkan hingga membuat nyaman dua orang yang tengah menikmati waktu mereka dibawah pohon rindang dengan buah-buahan yang begitu manis diatasnya. Salah satu diantara dua orang itu terlihat duduk dikursi taman, sedangkan satu orang lainnya memilih duduk diatas rumput sambil menyimpan kepalanya dipangkuan orang yang duduk dikursi taman itu.

Senyuman manis menghias diwajah sosok yang terduduk dikursi taman, seiring tangannya bergerak mengelus rambut sosok dibawahnya yang begitu terhanyut akan belaian lembut orang itu.

β€œ Sampai kapan kau akan terus seperti ini, sayang? β€œ. Sosok dibawah orang itu perlahan tak lagi menyimpan kepala diatas pangkuannya, ia menoleh sesaat lalu menyandarkan punggungnya dikursi sambil memandang lurus jauh ke depan.

β€œ Sudah berapa lama aku tertidur? β€œ

β€œ 40.000 abad lamanya β€œ

β€œ Jika 40.000 abad di dunia ini, berarti—.. β€œ

β€œ 4 Minggu di dunia sebelumnya β€œ

β€œ Lalu, selama itu apa yang mereka lakukan? Apa aku sudah mati? β€œ

β€œ Apa kau tidak mendengar sesuatu selama kau tidur siang, sayang? β€œ. Sosok itu kembali merasakan belaian lembut dikepalanya, terasa sangat tenang dan nyaman membuat sosoknya memejamkan kedua mata untuk merasakan perasaan itu semakin dalam.

Lalu, ia menghela nafas. β€œ Aku mendengarnya. Ia terdengar tidak ingin ditinggalkan olehku, omma β€œ

β€œ Jika seperti itu, maka kembalilah β€œ

β€œ Haruskah? β€œ. Ia memandang ke arah wanita paruh baya yang duduk diatas kursi, hingga gadis itu bisa merasakan belaian lembut dipipinya.

β€œ Apa yang membuatmu begitu ragu seperti ini, Stephanie? β€œ

β€œ Ani, aku hanya merasa sangat lelah dengan kehidupan di dunia. Tidak bisakah aku tinggal disini saja? β€œ. Wanita yang lebih tua darinya itu menggelengkan kepalanya, tanda ia tidak setuju dengan keinginan gadis semata wayangnya.

β€œ Appa pasti tidak menyetujuimu soal itu. Sayang, dengarkan omma.. β€œ. Tiffany membenarkan letak duduknya, mendongak untuk memandang wajah cantik ibunda tercintanya. β€œ Mungkin kau lelah dengan kehidupan dunia, tetapi mereka tidak lelah untuk mencintaimu. Omma dan appa pun seperti itu, tidakkah kau mendengar bagaimana mereka yang begitu mengkhawatirkanmu huh? Dengarkanlah suara mereka, bahkan salah satu dari mereka menangis karna takut kau tinggalkan β€œ

Tiffany membuang nafas pelan, ia menunduk dan bergumam lirih. β€œ Kim Taeyeon, aku mendengar tangisannya omma β€œ

β€œ Apa kau mencintainya, Tiffany? β€œ

β€œ Aku.. apa aku akan melupakan moment ini ketika aku bangun nanti omma? Apa mungkin aku akan terbangun? Bagaimana jika tidak? β€œ

Wanita paruh baya tersenyum dan mengecup sayang dahi Tiffany karna tahu bahwa putrinya tengah gamang akan perasaannya terhadap Taeyeon saat ini, sehingga Tiffany mencoba mengalihkan pembicaraan mereka. β€œ Kau mungkin akan melupakan moment ini, tetapi hatimu tidak melupakan bahwa kau pernah mencintai seseorang atau mungkin perasaan itu akan semakin tumbuh di dalam hatimu. Omma dan Appa telah memilih Kim Taeyeon sebagai pendampingmu dimasa depan, sayang. Jadi pergilah ke sisinya β€œ

β€œ Tapi–.. β€œ

Tiiiiiiiiiiiiiiiitttttttttttttt……………………………….

Tiffany dan ommanya menoleh ke sumber suara yang entah datang darimana, gadis itu terlihat resah dan gelisah dengan menggigit bibir bawahnya. Ia harus memilih. Antara kembali ke dunia atau memilih untuk tetap tinggal dikehidupan yang kekal abadi bersama kedua orangtuanya.

***

β€œ Fany-ah!! Tiffany, ANDWE!! β€œ. Taeyeon terlonjak bangun dari tidurnya disamping Tiffany yang masih terkapar tak berdaya di tempat tidur rawatnya. Seminggu yang lalu adalah hal mengerikan bagi Taeyeon karna hampir kehilangan Tiffany untuk selama-lamanya, bahkan kini kedua mata pria itu terlihat membengkak karna terlalu sering menangisi keadaan Tiffany dan juga merutuki kecerobohannya.

Setelah melihat detak jantung Tiffany yang tak lagi begerak lurus tempo itu, Taeyeon banyak-banyak mengucapkan syukur kepada Tuhan. Karna-Nya, Tiffany bisa bertahan dan selama itu pula Taeyeon tak pernah sekalipun melepaskan genggaman tangannya pada tangan Tiffany. Pria itu senantiasa berada disamping Tiffany.

Tak terasa sudah 15 menit Taeyeon memandang Tiffany, ia juga mengelus punggung tangan Tiffany dalam genggamannya dengan lembut. Hingga detik selanjutnya, ia merasakan jari-jari Tiffany bergerak dalam genggamannya membuat pria itu terdiam tak percaya. Akankah penantiannya berakhir saat ini juga??

β€œ Tiffany, apa kau mendengarku? Apa kau merasakan kehadiranku?? β€œ tanya Taeyeon sambil membawa tangan Tiffany untuk ia simpan dipipinya. β€œ Fany-ah, ireona β€œ. Taeyeon mengelus pipi Tiffany lembut, matanya kembali berkaca-kaca karna Taeyeon merasa tak kuasa melihat selang oksigen itu begitu nyaman berada dalam mulut Tiffany.

β€œ O-om-mma.. β€œ. Tiffany berucap lirih, meskipun begitu keadaan diruang rawat Tiffany yang begitu sunyi memudahkan Taeyeon untuk mendengar jelas suara gadis dihadapannya itu.

β€œ Kau merindukan ommamu, huh? β€œ Taeyeon mengelus kepala Tiffany dengan hati-hati, takut jika belaiannya dikepala gadis itu membuat Tiffany merasakan rasa sakitnya lagi. β€œ Apa kau tidak merindukanku? I miss you, Tiffany β€œ

Dan saat itu juga waktu seolah berjalan begitu lambat, Taeyeon melihat kedua mata Tiffany terbuka dengan perlahan. Kedua mata Tiffany terlihat sayu dan juga kosong, sesekali gadis itu pun menyenyitkan dahi karna merasa sangat pusing setelah sekian lama tidak terbangun dari tidur panjangnya. Detik selanjutnya, senyuman lebar menghias diwajah kusut milik Kim Taeyeon. Ia bersyukur dalam hati bahwa pada akhirnya, penantiannya berakhir juga. Sebuah kebahagiaan yang tak terkira melihat sosok gadis yang dicintainya, akhirnya melewati masa kritis dan komanya.

β€œ Chankman, aku akan menekan tombol urgent untuk memanggil dok–.. β€œ

β€œ H-h-hajim-ma β€œ. Taeyeon yang baru saja akan menekan tombol darurat yang tak jauh darinya terpaksa mengurungkan niat karna permintaan Tiffany. β€œ H-h-hajim-ma β€œ

β€œ Wae? A-arrasseo, apa kau merasakan sakit pada tubuhmu? β€œ tanya Taeyeon dengan hati-hati

β€œ A-ap-po β€œ jawab Tiffany membuat Taeyeon menggigit bibir bawahnya karna mengkhawatirkan keadaan Tiffany. Sementara itu, ia juga tak tahu apa yang harus dilakukannya agar Tiffany tidak merasakan rasa sakitnya lagi.

β€œ Kalau begitu aku benar-benar harus memanggil dok–.. β€œ

β€œ H-h-hajim-ma β€œ

β€œ Waegeurae? β€œ

β€œ Disini dingin sekali β€œ ungkap Tiffany masih terbata-bata

β€œ Setidaknya kau harus melepas selang oksigen dari dalam mulutmu dan diganti dengan masker oksigen agar kau lebih leluasa berbicara padaku, kau mau kan Tiffany? β€œ

Tanpa menunggu jawaban dari Tiffany, Taeyeon dengan sigap menarik salah seorang suster yang kebetulan melewati ruang rawat Tiffany hingga suster pun melepas perlahan selang oksigen dari dalam mulut Tiffany dan menggantikannya dengan masker oksigen. Sedangkan, Tiffany hanya bisa memejamkan matanya sambil sesekali terbatuk lantaran gadis itu merasakan tenggorokkannya yang kering dan menyakitkan.

β€œ Apa sudah merasa nyaman? β€œ tanya Taeyeon penasaran. Pria itu benar-benar memperlakukan Tiffany dengan sangat baik, seperti suami yang sudah seharusnya mengurus istrinya yang sakit parah.

β€œ D-dingin β€œ

β€œ Geurae, aku akan memelukmu β€œ ucap Taeyeon, namun sebelumnya Taeyeon mengatakan sesuatu terlebih dahulu pada suster sebelum akhirnya suster itu meninggalkan mereka berdua disana.

Perlahan, Taeyeon mulai merangkak naik ke atas tempat tidur Tiffany. Mencari posisi nyaman untuk memeluk Tiffany. Keheningan pun menyeruak diantara mereka, hanya terdengar suara burung bernyanyi diluar sana. Taeyeon mengeratkan pelukannya ditubuh Tiffany, sesekali mengecup sayang pangkal kepala gadis itu.

β€œ Fany-ah, gwenchanayo? β€œ tanya Taeyeon pelan

β€œ Mm.. dadaku sakit β€œ

β€œ Itu karna tulang rusukmu patah β€œ ungkap Taeyeon sambil mengelus pipi Tiffany lembut, β€œ Apa masih dingin? β€œ sambungnya

β€œ Mm.. disini gelap, Tae β€œ. Tiba-tiba Taeyeon tersenyum, pria itu tak menyangka bahwa Tiffany yang baru saja sadar sudah mencoba untuk menghiburnya.

β€œ Bagaimana pagi yang cerah kau sebut gelap, Fany-ah? Apa kau sedang bersembunyi diceruk leherku?? β€œ

β€œ Tapi disini sungguh sangat gelap, Tae. A-akku takut β€œ. Taeyeon menyernyitkan dahinya dalam, perlahan ia menjauhkan dirinya dari tubuh Tiffany. Tentu saja itu membuat Taeyeon melepaskan pelukannya dari tubuh Tiffany untuk menatap gadis itu.

Taeyeon melihat kedua mata Tiffany hampir terbuka sepenuhnya, ia memandang dalam kedua mata Tiffany. Lalu, melambaikan tangannya dihadapan kedua mata Tiffany tetapi aksinya itu justru membuat jantungnya berdegup sangat kencang. Degup jantung tak biasa yang ia rasakan. Ketakutan.

β€˜I-ini tidak mungkin! β€˜

Tiffany tidak mengindahkan aksi Taeyeon yang jelas-jelas menghalangi pemandangannya, gadis itu terlihat tidak merasa terganggu dan tetap memandang ke depan. Detik selanjutnya, kedua tangan Tiffany bergerak. Menangkupkan kedua tangan di wajah Taeyeon, namun gerakan tangannya saat ini berubah. Tiffany terlihat seolah tengah mencari sesuatu, meraba wajah Taeyeon dan berhasil membuat Taeyeon terdiam terpaku dengan dugaan-dugaan yang hadir dalam pikirannya.

β€˜Tiffany, jangan katakan jika–..’

β€œ I-ini wajahmu, Tae? Mengapa aku tidak bisa melihatnya? β€œ tanya Tiffany, dari nada suaranya gadis itu pun terlihat kebingungan dengan keadaannya saat ini. β€œ Apa mataku masih terpejam? β€œ. Kali ini, giliran kedua tangannya yang meraba wajahnya sendiri.

β€œ Tidak. Fany-ah, aku harus menghubungi dokter sekarang juga! β€œ. Taeyeon segera turun dari tempat tidur dan menekan tombol urgent disamping tempat tidur Tiffany. Pria itu terlihat gelisah dengan menggigit bibir bawahnya dan kedua matanya kembali berkaca-kaca.

β€˜Tiffany tak mungkin buta’

Tak lama kemudian, beberapa tenaga medis masuk ke dalam sana. Taeyeon yang ingin segera Tiffany ditangani mencoba untuk menyingkir dari sisi Tiffany, tetapi Tiffany yang menyadari hal itu segera menahannya.

β€œ J-jangan tinggalkan aku, a-aku takut β€œ

Taeyeon menghembuskan nafasnya, ia sungguh tak kuasa jika dugaannya benar-benar terjadi. Bagaimana Tiffany akan menyikapi keadaannya setelah ini? Meskipun begitu, apapun yang terjadi pada Tiffanyβ€”Taeyeon berjanji untuk tidak pernah sekalipun untuk meninggalkan gadis dihadapannya apalagi harus melihatnya menangis. Itu tidak akan pernah terjadi.

β€œ Izinkan aku untuk tetap berada disisinya, dok β€œ ucap Taeyeon pada dokter

β€œ Baiklah β€œ

 

 

β€œ Maafkan saya, tuan. Saya benar-benar harus mengungkapkan berita ini β€œ ucap dokter ragu setelah ia meminta Taeyeon untuk ikut sebentar dengannya keluar ruang rawat Tiffany. Sementara saat ini, Taeyeon terlihat tegang akan kalimat selanjutnya yang akan keluar dari mulut dokter dihadapannya. Kedua tangannya berkeringat hebat, bahkan wajahnya berubah menjadi pucat.

β€œ Jangan katakan bahwa Tiffany.. β€œ

β€œ Ne, kau benar. Pasien tidak dapat melihat, hal ini diakibatkan oleh serpihan kaca yang masuk ke dalam matanya β€œ

β€œ A-a-apa kau sedang tidak bercanda denganku?? Bagaimana mungkin!?? β€œ

β€œ Kami sudah berusaha semaksimal mungkin dalam operasinya tempo itu, tetapi hanya Tuhan lah yang mampu menyembuhkannya β€œ

β€œ Apa Tiffany buta permanent?? β€œ

β€œ Kami belum bisa memastikannya lagi, akan ada pemeriksaan lebih lanjut mengenai pasien β€œ jawab dokter sebelum akhirnya dokter itu permisi untuk melanjutkan pekerjaannya. Meninggalkan sosok Taeyeon yang masih mematung ditempatnya dengan pandangan mata yang kosong.

β€œ Apa yang harus aku katakan padanya? β€œ gumam Taeyeon.

Saat ini pikiran Taeyeon sungguh berantakan, ia menyandarkan tubuhnya didinding koridor rumah sakit. Membiarkan tubuhnya yang perlahan meluruh ke lantai. Beruntung suasana disekitar sana selalu sepi sehingga tak ada seorang pun yang melihat keadaan Taeyeon yang begitu hancur selepas mengetahui kondisi Tiffany yang sesungguhnya.

β€˜Ottokkae??’

Taeyeon menjambak rambutnya dan mengerang frustasi, ia merasa hidup ini semakin bertambah sulit dan tak adil bagi Tiffany. Saat ini Tiffany sudah menjadi bagian dari kebahagiaannya, jika Tiffany mengetahui kenyataan ini entah apa yang terjadi dengan gadis yang dicintai Kim Taeyeon.

Suara dering telpon terdengar dari dalam saku celana Taeyeon, ia merogoh saku celananya lemah dan mengambil ponselnya sebelum akhirnya ia menerima panggilan tersebut.

β€œ Taeyeon-ah, apa kau sudah makan, nak? Bagaimana keadaan anak gadis eomma? β€œ. Taeyeon terdiam, lidahnya terasa kelu hanya untuk menjawab pertanyaan ibunda tersayangnya sehingga hanya butiran krystal yang kini terlihat mengalir keluar dari pelupuk matanya. β€œ Taeyeon-ah, gwenchana? Apa kau masih disana, nak? Katakan sesuatu, eomma sangat mengkhawatirkan kalian β€œ

Taeyeon berdehem, mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri dan mencoba agar suaranya nanti tidak terdengar bergetar karna menangis.

β€œ Kami baik-baik saja, eomma. Bahkan, Tiffany sudah bangun β€œ

β€œ Jeongmal?? Kalau begitu nanti sore selepas ayahmu pulang, kami akan berkunjung. Eomma sangat merindukan kalian β€œ. Taeyeon tersenyum miris, ia dapat membayangkan bagaimana perasaan bahagia ibunya saat ini. Karna itu Taeyeon menjadi ragu untuk mengatakan keadaan Tiffany yang sebenarnya pada ibunya.

β€œ Geurae, jaga dirimu baik-baik eomma β€œ

β€œ Ne, kau juga. Saranghae β€œ

β€œ Nado β€œ. Panggilan mereka pun berakhir, Taeyeon bergegas menghapus air matanya dan beranjak berdiri. Merapikan sedikit pakaiannya yang sangat kusut, lalu berjalan masuk kembali ke dalam ruang rawat Tiffany.

Dari jaraknya, Taeyeon dapat melihat bahwa Tiffany tengah memalingkan wajahnya ke arah jendela kamar. Sinar mata gadis itu begitu redup, Taeyeon seolah melihat bahwa saat ini kesedihan tidak hanya hadir padanya tetapi ia melihat Tiffany pun seperti itu. perlahan, ia mencoba menarik kedua sudut bibirnya meskipun pada kenyataannya Tiffany tak akan mungkin bisa melihat senyumannya yang sedikit dipaksakan. Disatu sisi, Taeyeon bersyukur bahwa Tiffany tidak dapat melihat keadaan dan kekacauan yang terjadi saat ini.

β€œ Aku.. tidak bisa melihat, Tae. Aku buta, bukankah itu yang dikatakan dokter? β€œ. Perlahan, Tiffany mengalihkan pandangannya ke arah Taeyeon. Seolah pandangan mereka bertemu, tetapi isi didalam kedua mata Tiffany tetaplah gelap. Gadis itu benar-benar tidak bisa melihat semuanya.

β€œ Sshh.. jangan banyak bergerak terlebih dahulu apalagi harus memikirkan hal yang berat-berat untuk sementara ini. β€œ Taeyeon meraih tangan kanan Tiffany, mengelus punggung tangan tirus itu dengan lembut. β€œ Nan gwenchana, all is well Fany-ah β€œ

Tak lama kemudian, Taeyeon melihat air mata yang keluar dari pelupuk mata Tiffany. Gadis itu menangis. Menangisi keadaannya yang mulai saat ini akan berubah 360 derajat.

β€œ Uljimayo β€œ. Taeyeon menghapus air mata itu dengan ibu jarinya, mengelus pipi Tiffany dengan perasaan hati yang terasa tersayat belati. Menyakitkan. Ia tak bisa melihat Tiffany seperti ini. Tidak pernah bisa.

β€œ Jika pada akhirnya aku tidak bisa melihat, mengapa aku harus bangun lagi! β€œ. Tiffany menghempaskan kedua tangan Taeyeon dari wajahnya kasar, gadis itu mulai putus asa hingga tak menyadari bahwa kondisi tubuhnya masih sangat lemah. β€œ Kenapa Tuhan tidak membuatku mati saja! A-aku.. aku tak ingin seperti ini. A ak ku, takut Tae. Sangat takut.. β€œ. Tiffany semakin meledakkan tangisannya membuat sosok pria yang berlagak kuat dihadapan gadis itu akhirnya menitikkan air matanya.

β€œ Mianhae, mianhae Fany-ah. Aku begitu terlambat menyelamatkanmu, mianhae. Jangan seperti ini, jebal. Bagaimana pun, mulai sekarang aku akan selalu berada disampingmu. Aku janji β€œ. Taeyeon berusaha mendekap tubuh Tiffany yang terus memberontak, memukul acak tubuh Taeyeon hingga gadis itu pun lelah dan menyerah dengan membiarkan Taeyeon memeluknya. Kedua dari mereka menangis diantara keheningan yang terjadi diruangan itu.

***

β€œ Taeyeon-ah β€œ. Taeyeon mendongakkan kepala ke sumber suara dan menemukan Jaejoong berdiri dihadapannya.

Hari sudah beranjak sore dan seperti janji ibundanya, wanita paruh baya itu bersama Jaejoong mengunjungi mereka. Kedua orang tua Taeyeon pun merasa sangat terpukul dengan kenyataan yang terjadi pada Tiffany. Selama kedua orangtuanya mengunjungi Tiffany, Taeyeon memilih untuk keluar ruangan dan duduk seorang diri dikursi tunggu koridor. Didalam pikirannya berbagai strategi untuk membuat Tiffany kembali seperti sedia kala terus berputar, masih ada kemungkinan dan peluang Tiffany agar bisa melihat lagi sebelum mendengar analisis dokter mengenai kabar terbaru gadis yang dicintainya. Selama dokter belum mengasumsi bahwa Tiffany tidak buta permanent, kesempatan itu dapat Taeyeon manfaatkan dengan membawa Tiffany dalam pengobatan macam apapun.

β€œ Kau terlihat berantakan, nak β€œ. Jaejoong duduk disamping Taeyeon, menepuk punggung anaknya pelan

β€œ Apa yang harus kulakukan, appa? Aku tak ingin melihat Tiffany sedih dan menangis setiap waktu β€œ ungkap Taeyeon sambil menundukkan kepalanya

β€œ Berita ini sungguh sangat mengejutkan dan membuat aku sama terpukulnya denganmu, nak. Bahkan sudah beberapa kali eommamu merayu Tiffany agar gadis itu memakan makanannya. Gadis itu akan sulit dikendalikan mulai saat ini β€œ. Jaejoong memandang sekilas ke arah Taeyeon, β€œ Meskipun begitu apapun yang akan kau lakukan, appa akan ikut bekerja sama denganmu untuk Tiffany kita β€œ. Taeyeon memandang ke arah Jaejoong yang tersenyum sambil mengelus kepala anaknya

β€œ Tanyakan pada dokter, kapan pemeriksaan Tiffany selesai karna tadi anak itu meminta kami untuk membawanya pulang β€œ

β€œ Tapi keadaan Tiffany masih sangat lemah β€œ

β€œ Arrayo, tetapi jika ia dibiarkan berlama-lama disini. Pekerjaanmu dikantor akan semakin bertumpuk dan kita tak mungkin meninggalkan Tiffany seorang diri disini setelah apa yang ia dapatkan tempo itu. Jika Tiffany tinggal bersama kami, eomma bisa merawatnya sementara kau bisa pulang ke rumah setelah kau selesai bekerja β€œ. Taeyeon menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Jaejoong. Ia percaya bahwa ia tak sendiri untuk mengurus Tiffany, masih banyak yang menyanyangi gadis itu terutama kedua orangtuanya.

β€œ Gomawo, appa β€œ

.

.

3 hari kemudian, Tiffany terpaksa diperbolehkan pulang lantaran gadis itu melakukan aksi protesnya dengan menentang semua permintaan dokter dan suster. Bahkan, gadis itu menjadi lebih keras kepala dari biasanya. Mudah emosi dan dingin kepada setiap orang.

Kondisi Tiffany yang seperti ini membuat Tiffany selalu berfikiran negatif, ia berpikir bahwa orang-orang memperlakukan ia dengan baik karna merasa kasihan. Bagaimanapun keadaanya, Tiffany tak pernah ingin dikasihani.

Dan saat ini, kendaraan yang membawa Tiffany menghentikan lajunya. Seorang supir keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Tiffany, hingga gadis itu dapat merasakan kedua tangan seseorang menyentuh permukaan kulitnya. Menggendongnya dengan hati-hati dan menempatkannya dikursi roda. Keadaan Tiffany masih belum sembuh total sehingga gadis itu perlu mengandalkan kursi roda untuk sementara waktu.

Setelah pulang pun, Tiffany bukan lagi dibanjiri oleh job dikantornya melainkan gadis itu dibanjiri oleh banyaknya jadwal theraphy yang wajib dilakukannya. Pekerjaan Tiffany dikantornya pun telah diambil alih sebagian oleh Taeyeon dan sebagian lagi oleh Minho. Kedua pria itu sudah sepakat untuk saling membagi tugas agar perusahaan yang selama ini dikembangkan Tiffany tetap berjalan.

β€œ Aku akan membawamu ke ruang tengah, kau mungkin perlu hiburan–.. β€œ

β€œ Minho-ya.. Aku ingin ke kamar, bawa aku ke kamar. β€œ ucap Tiffany dengan mengabaikan ucapan Taeyeon membuat pria itu tak lagi mendorong kursi roda Tiffany.

β€œ O-oh.. ne, noona. Hyung, tolong bantu aku β€œ. Minho yang sebelumnya tengah membawakan barang bawaan milik Tiffany bergegas melimpahkannya pada Taeyeon, sehingga pria itu dapat membawa Tiffany ke dalam kamar gadis itu.

Taeyeon terdiam, mematung ditempatnya sambil terus memandang dua orang yang semakin menjauh darinya. Sudah 3 hari itu, Tiffany sering kali menghindarinya. Tidak merespon pertanyaannya apalagi hiburannya, Tiffany seolah membuat sebuah benteng yang perlahan namun pasti meninggi hingga tak ada celah sedikit pun untuk Taeyeon dapat melihatnya. Hal itu tentu saja membuat Taeyeon sedih.

Keadaan dan permasalahan ini lebih sulit dibandingkan permasalahan hubungan keluarganya dengan Tiffany yang sudah mendapatkan titik terang. Bahkan, masalah itu sudah terselesaikan dengan mudah. Sekarang permasalahan baru datang pada hubungannya dengan Tiffany. Semula Tiffany lah yang lebih sering memberikan umpan pada Taeyeon, setelah Taeyeon mengetahui semua kebenarannya gadis itu mulai menghindar darinya. Inilah yang disebut sebuah kehidupan. Disaat seseorang berusaha untuk mengharapkan kehadiran cinta dari seseorang sementara seseorang itu mengabaikannya, ada saatnya keadaan itu berbalik.

Minho tak lagi mendorong kursi roda Tiffany begitu mereka sampai disebuah kamar yang memang sudah lama tidak dihuni oleh gadis itu. Meskipun begitu, suasana didalam kamar itu tak pernah berubah. Hunian asri, sejuk, bersih dan nyaman.

β€œ Kita sudah berada dikamarmu, noona. Apa kau membutuhkan sesuatu? β€œ tanya Minho, seiring mendaratkan kedua lututnya dilantai tepat dihadapan Tiffany. Perlahan, kedua tangan Tiffany bergerak ke depan. Gadis itu mencoba menemukan wajah pria dihadapannya, hingga akhirnya Minho membantu gadis itu untuk menyentuh wajahnya.

Tiffany tersenyum tipis, bahkan untuk menangkupkan kedua tangan diwajah seseorang saja Tiffany tidak mampu dan itu membuat hati Tiffany begitu sakit. Tiffany merasa dirinya sangat menyedihkan.

β€œ Untuk menyentuh wajahmu saja aku tak mampu, Minho-ya. Aku hanya akan merepotkan semua orang β€œ ungkap Tiffany dengan kedua mata yang berkaca-kaca

β€œ Gwenchanayo, noona. Aku akan membantumu agar kau bisa melakukan segala sesuatunya seorang diri. Kau hanya perlu bersabar dan berusaha, arrasseo? β€œ

β€œ Gomawo, Minho-ya β€œ

β€œ Ne cheonmaneyo. Apa kau membutuhkan sesuatu, noona? β€œ

β€œ Aniya. Aku hanya ingin beristirahat dan kau sudah bisa pergi β€œ

β€œ Apa tak apa? β€œ

β€œ Hm.. nan gwenchana β€œ

β€œ Geurae β€œ. Minho menggendong tubuh Tiffany dan merebahkannya diatas tempat tidur. β€œ Beristirahatlah dan aku mohon setelah pulang ini, noona tidak lagi mengajukan protes apapun dengan mogok makan. Jika kau ingin segera mandiri, kau harus segera sembuh. Bukan begitu? β€œ

β€œ Hm.. aku mengerti β€œ

Disisi lain, tanpa mereka sadari sedari tadi Taeyeon mengawasi mereka. Air mata telah mengalir keluar dari pelupuk matanya. Ia merasa sangat sakit melihat bahwa Tiffany begitu baik memperlakukan Minho sementara padanya, gadis itu bahkan menganggap keberadaan Taeyeon disisinya bukanlah apa-apa. Apakah ini adalah sebuah hukuman untuk Kim Taeyeon?

β€˜Please dont do this to me, Fany-ah. Neomu appo’

TBC

Hehehe.. *nyengir gaje*, drama hadiiirr pemirsahhh.. selamat menikmati ^^

Oya ada satu hal yang ingin diungkapkan, saya harap hubungan kita tidak hanya sebatas penulis dan pembaca. Saya sangat berapresiasi sekali kalau kita bisa saling sharing, memperkuat tali silaturahmi dengan saling berkomunikasi. Punya banyak teman gak ada salahnya to? Jadi untuk kalian yang ingin mengenal lebih jauh dengan penulis, atau mau sharing bahkan kritik dan saran kalian bisa langsung hubungin penulis lewat line atau twitter. Ini ID line saya @sofiefasya.

See you soon, semoga cerita diatas berkesan. Makasih ^^

73 comments

  1. Korban drama gak papa tpi kereeen mpe mo iktn nangis sedih bgt . Fany kok buta??
    Yg nyelakain fany siapa coba???

    Tae yg sabar dan jangan tinggalin fany

  2. kenapa fany sekarang jadi dingin ma taeng?
    jadi sedih ngebayangin gimana perasaan taeng dan perasaan fany yang sedang terguncang gara” kebutaannya😦
    siapa sebenarnya pelakunya? gak mungkinkan orang” yg berada di dekatnya?
    moga fany gak permanen deh butanya, kan eyesmile jadi sedikit redup😦
    ditunggu next updatenya~πŸ˜€

  3. sedih nih kok jd kyk gini:-(:-(:-(
    fanny knp jd dingin sm taeng??
    moga aja fanny bs melihat lg
    nah lho trus yg bikn fanny celaka sp?
    haduh khun emng mnta di jitakin, untung aja ada minho

  4. teh rangkum di sini ya komennya hehehe ^^v

    nah jadi aku penasaran kalo bukan lee soonkyu (ngakak sunny jd penjahat XD) yg celakain pany lah berarti ada orang selain si kamera rusak dong yg pengen bunuh pany -,-” disitu adinda merasa bingung *ketularan

    nah loh sekarang pany yg cuek sama taenya lalalalalalalaa hukum karma loh *eh

  5. akhirnya fany sadar jg, tp kenapa sifatnya jd jahat gitu sm taeyeon. padahal kan dia udah benar-benar tulus sma fany..

  6. Akhirnya fany sadar juga. Kasian fany gak bisa ngelihat.
    Itu kenapa taeng di cuekin sama fany. Yg sabar ya taeng.
    Taeyeon ayo kasih pelajaran sama si nikon yg udah bikin tiffany gak bisa lihat.
    Ok thor, semangat berkarya dan menulisnya.
    Izin baca chap selanjutnya ya.

  7. Lah jd bales2an gni ya dlu taeng yg acuhin ppany skrang gantian ppany yg cuekin taeng, karma emang lebih nyakitin ya tae. iya

    Lah ni musuh ppany ada brpa sih koq pda pngen nyilakain ni anak salah momy gue apa coba hih!!
    Izin lanjut deh thorπŸ˜„

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s